Daerah

Banyak Warga Kampung Panagan Kab. Cianjur Tidak Berminat Untuk Sekolah

JABAR NEWS | CIANJUR – Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Cianjur, H. Sapturo sangat menyayangkan banyaknya warga Kampung Panagan Desa Batulawang Kecamatan Cipanas Kabupaten Cianjur masih minim kesadaran atas pendidikan formal lantaran doktrin agama dan warisan nenek moyang yang salah.

Sapturo mengatakan warga lebih memilih belajar di pondok pesantren dibanding dilembaga pendidika formal dan menilai pemikiran seperti itu kurang tepat lantaran tanpa mengenyam pendidikan formal anak tidak akan berkembang secara maksimal.

“Itu pemikiran yang salah, Pemerintah Desa semestinya jangan tinggal diam, apalagi disetiap kecamatan ada Unit Pelaksana Teknis Pendidikan seharusnya melakukan pendekatan,” kata Sapturo kepada jabar news belum lama ini.

Politisi Partai Golkar itu mendesak Majelis Ulama Indonesia (MUI) segera berupaya melakukan tindakan karena hal itu menyangkut doktrin agama.

“Jika latar belakangnya agama semestinya MUI yang harus pro aktif, pemikiran seperti itu jelas membodohkan, orang tua yang tidak boleh menyekolahkan anaknya sama dengan tidak menyayangi generasinya,” terang Sapturo.

Sementara itu, Kepala Desa Batulawang Nanang Rohendi mengakui bahwa warga di Kampung Panagan kurang memiliki minat untuk sekolah formal. Mereka lebih memilih mondok di pesantren dibandingkan lanjut sekolah.

“Hal tersebut memang faktor keturunan, orang tua memilih memasukan anaknya ngaji karena mereka berpikiran disekolah kurang islami karena masih ada yang membuka aurat,” jelasnya.

Di singgung soal upaya Pemerintah Desa dalam membangun kesadaran warga Kampung Panagan Nanang menjawab hanya bisa mengarahkan tanpa memaksa lantaran hal tersebut merupakan keyakinan mereka.

“Makanya kami berterima kasih jika ada penggerak yang memiliki kepedulian terhadap warga Kampung Panagan,” ungkapnya.

Salah satu tokoh masyarakat Mamad menambahkan, bagi warga Kampung Panagan, sekolah tidak menjadi prioritas utama hal tersebut bukan tanpa alasan melainkan mempertahankan tradisi dan warisan nenek moyang.

“Hal ini sudah turun-temurun anak-anak cukup sekolah hingga tingkat Sekolah Dasar kelas tiga saja, kami berpikiran cukup bisa menghitung, membaca dan menulis selanjutnya anak di masukan ke pondok pesantren,” tuturnya. (Wan)

Jabar News | Berita Jawa Barat

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top