Bisnis

Pertumbuhan Ekonomi Syariah Jabar Lebih Besar Dibanding Nasional

JABAR NEWS | BANDUNG – Provinsi Jawa Barat (Jabar) memiliki peranan yang sangat penting dalam pengembangan ekonomi syariah di Indonesia. Sebagai provinsi dengan jumlah penduduk terbanyak secara nasional yakni 46,5 juta orang dan 98% penduduknya beragama Islam, Jabar memiliki jumlah faktor Sumber Daya Manusia (SDM) yang sangat potensial.

SDM potensial untuk dikembangkan dan diarahkan menjadi sumber daya insani penggerak utama pengembangan ekonomi syariah di Indonesia.

Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Jawa Barat (Jabar) Wiwiek Sisto Widayat mengatakan pertumbuhan perekonomiam syariah di Jawa Barat tumbuh lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi syariah nasional.

“Kita lihat bahwa total aset perbankkan syariah Jabar itu tumbuh lebih tinggi dari total asetnya perbankkan syariah nasional. Tahun 2017 sampai bulan Juni, tumbuh sampai dengan 15,8% jauh diatas pertumbuhan perbankkan syariah nasional yang hanya 10%,” kata Wiwiek saat diwawancara, Rabu (13/09/2017).

Sedangkan dari sisi pemberian kredit atau financing ungkap Wiwiek, Jabar cukup baik dibanding nasional. Yakni tumbuh dengan 10,6%, sementara syariah nasional tumbuh 8,6%.

“Sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan umum syariah di Jabar pada Triwulan II 2017 tercatat tumbuh stabil sebesar 14,2% (yoy) dibanding triwulan I 2017. Pangsa DPK Perbankan Syariah Jabar terhadap Total DPK Perbankan Syariah Nasional sebesar 11,7%,” ungkap Wiwiek.

Namun demikian, penetrasi pemanfaatan layanan jasa keuangan syariah di Jabar masih perlu ditingkatkan. Hal ini tercermin dari pangsa pemanfaatan layanan jasa pembiayaan perbankan syariah terhadap total kredit perbankan di Jabar masih relatif kecil. Yaitu 8,4%, meski sudah lebih baik dibandingkan dengan pangsa pemanfaatan layanan jasa pembiayaan perbankan syariah nasional terhadap total kredit perbankan nasional yang baru mencapai 5,9%.

“Permasalahannya disini kalau kita lihat dari sisi Demand nya financing nya itu lebih dipengaruhi atau lebih didorong hampir 49% itu didorong oleh kegiatan konsumsi. Sementara untuk infestasi hanya 20%. Untuk itu kita akan dorong dan kita bekerjasama dengan OJK Regional II serta berbagai lembanga keuangan syariah bank dan non bank agar financing syariah ini lebih didorong untuk tujuan yang bersifat investasi. Karena hal itu memberikan peningkatan lebih besar dibandingkan konsumsi,” terangnya. (Nur)

Jabar News | Berita Jawa Barat

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top