Daerah

Yayasan Scorpion Indonesia Minta Gubernur Jabar Hentikan Tradisi Adu Bagong

JABAR NEWS | BANDUNG – Yayasan Scorpion Indonesia yang biasa dikenal dengan nama Scorpion Trade Monitoring Group meminta Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan untuk melarang dan menghentikan pertunjukan Adu Bagong di Jawa Barat.

Direktur investigasi scorpion Marison Guciano mengatakan aksi pertunjukan adu bagong merupakan tradisi yang mengeksploitasi kehidupan hewan dan menunjukkan kekejaman hewan atas nama tradisi.

“Adu bagong, baik anjing maupun babi hutan (adu bagong) mengalami penderitaan yang cukup panjang. Jadi sebelum hari H untuk diadu bagong diambil dari alam dengan sengaja diburu kemudian disimpan dalam box kecil selama berhari-hari, kan kasian sekali,” ujar Marison disela aksi penolakan pertunjukan Adu Bagong di depan Gedung Sate Bandung, Senin (23/10/2017).

Marison mengatakan berdasarkan pasal 302 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) para pelaku adu bagong ini merupakam tindakan kriminal meski penegakan hukum terhadap pidana ini masih sangat lemah.

“Yang ringan itu mungkin sekitar satu bulan atau apa tapi bisa dilihat di padal 302 KUHP menyebutkan itu tindak pidana walaupun memang penegakan hukum tindak pidana ini sangat lemah di Indonesia,” kata Marison.

Ia menuturkan lemahnya penegakan terhadap pasal tersebut dikarenakan masyarakat Indonesia sudah terbiasa dengan kekejaman terhadap hewan dan ia menilai masyarakat Indonesia sudah tidak peka terhadap kekejaman terhadap hewan.

“Masyarakat sudah terbiasa dengan kekejaman terhadap hewan mulai dari adu bagong adu ayam itu dianggap masyarakat sebagai sesuatu hal yang biasa. Dalam adu bagong itu masyarakat bersorak tepuk tangan padahal hewan ini menderita berdarah-darah,” tuturnya.

Marison meminta pemerintah untuk harus bertindak tegas dalam menghentikan tradisi yang menampilkan kekejaman terhadap hewan tersebut.

“Kita juga akan menemui berbagai pihak selain Gubernur kita juga akan menemui dprd dan lain-lain untuk menyakinkan mereka bahwa adu bagong ini adalah tradisi yang keliru harus dikoreksi dan segera dihentikan,” tutupnya. (Nur)

Jabar News | Berita Jawa Barat

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top