Jurnal

Generasi Baru

JABAR NEWS | PURWAKARTA – Semakin tua bumi ini semakin banyak pula jenis karakteristik anak-anak maupun orang dewasa yang menjadi sorotan masyarakat.

Generasi sekarang inilah yang menjadi sorotan masyarakat karena ulah yang mereka buat dalam bentuk yang negative, seperti yang sedang ramai di bicarakan netizen di media sosial yaitu generasi sekarang ini khususnya anak-anak di bawah umur yang bertindak tanpa berfikir sehingga mereka menganggap bahwa generasi sekarang terlalu banyak memakan penyedap rasa yaitu “micin” sehingga warganet (masyarakat pengguna media sosial) menjuluki generasi sekarang sebagai “generasi micin”.

Orang dulu mengatakan jangan terlalu banyak makan micin nanti jadi bodoh. Di kutip dari solo.tribunnews.com, orang-orang Jepang sering menggunakan micin untuk masakan dan kita tahu bahwa orang Jepang adalah orang yang cerdas namun menurut WHO, micin aman dikonsumsi jika tak melebihi 6 gram. Tidak menutup kemungkinan anak-anak di Indonesia yang iseng mengkonsumsi micin melibihi batas wajar.

Faktanya tidak sedikit beredar foto anak kecil yang bahkan masih duduk di bangku SD/SMP sedang merokok bahkan mabuk sekalipun. Tidak wajar bukan. Tidak semua anak di bawah umur seperti itu tapi yang tersorot jelas masyarakat pasti yang seperti di atas terlebih lagi penyebaran berita atau informasi lewat media sosial lebih cepat, sehingga semakin banyak pula yang melihat dan tidak sedikit yang ikut geram, ikut kesal akan perlakuan anak-anak jaman sekarang.

Kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan si anak yang berbuat hal negatif karena disisi lain tugas orang tua ialah mengawasi, mendidik si anak agar tidak terjerumus kedalam pergaulan yang berbau negatif. Mungkin si anak melakukan hal seperti itu karena kurangnya pengawasan orang tua, sehingga mereka melakukan hal yang dilihatnya, seperti yang dilakukan orang dewasa, akibatnya mereka merasa menjadi dewasa dan lebih parahnya lagi ada seorang anak yang nekat bunuh diri dengan cara melompat dari tower karena dikabarkan cintanya ditolak.

Mungkin dengan pengawasan dari orang tuanya mereka tidak akan melakukan hal semacam itu, sehingga ini menjadi imbauan untuk para orang tua supaya tetap mengawasi anak-anaknya agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti yang sudah-sudah terjadi. Dengan cara membatasi pergaulan si anak bisa mencegah hal-hal buruk terjadi, tetapi membatasi pergaulan tanpa harus mengekang seorang anak karena masa-masa itulah si anak waktunya bermain dan mencari pengetahuan yang tidak didapatkan di rumah. Kita harus menjadikan anak-anak kita sebagai generasi penerus bangsa yang baik yang berprestasi serta bisa mengharumkan nama INDONESIA dengan prestasinya.

Ulah anak zaman sekarang memang beragam bahkan permainan anak zaman sekarang sudah berbeda dengan permainan kita jaman dahulu. Kita mungkin dahulu bermain bola telanjang kaki di sawah, di lapangan kecil dan batas waktu selesai bermain hanyalah Adzan Magrib atau jika sudah di panggil emak kita di suruh mandi.

Lain dengan anak zaman sekarang yang bermain bolanya di hanphone dan mereka merasa gengsi bermain bola telanjang kaki, padahal sejujurnya saya lebih menikmati permainan tradisional yang memang ramai dimainkan pada zamannya yaitu zaman dahulu. Ya mungkin karena perkembangan zaman sekarang handphone hampir lebih di utamakan karena memiliki multifungsi, selain untuk bermain game juga kepentingan utamanya untuk berkomunikasi dengan tetangga atau teman yang jauh. Tapi anehnya ketika yang jauh ditanya kabar dan mereka akrab lewat komunikasi handphone padahal tidak sedikit ketika berdekatan mereka sibuk dengan hanphonenya masing-masing.

Mungkin inilah arti pepatah “hanphone mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat”. Tidak sampai disana bukti hanphone lebih di prioritasakan adalah ketika bangun tidur yang di cari hanphone, sedang makan bermain hanphone bahkan saat acara penting pun ada anggoda dewan yang ketahuan bermain hanphone ketika sedang rapat, bukankah ini seauatu yang tidak wajar.

Faktanya dari anak-anak hingga orangtua pun sama di zaman sekarang, meraka hampir tidak bisa lepas dari hanphone, bahkan saya pribadipun hampir mendekati itu, tapi kita sadar dirilah, kita harus tahu batasan kapan waktunya bermain hanphone dan kapan waktunya kita berhenti. Inilah kenyataan generasi sekarang sudah macam-macam ulahnya dari anak-anak hingga orang dewasa hampir sama saja di perbudak oleh hanphone.

Dampak fositif dari hanphone adalah kita bisa menjalin hubungan dengan saudara kita yang jauh keberadaanya, bahkan dengan canggihnya tekhnologi kita bisa saling bertatap muka dengan saudara kita yang jauh hanya dengan melakukan video call atau berbagi aktifitas yang sedang dilakukan dengan cara memfoto keadaan di sekitar atau membuat video dengan durasi yang disesuaikan oleh aplikasi yang digunakan seperti whatsapp atau aplikasi lainnya.

Terlepas dari itu kita tengok sejenak generasi zaman dahulu yang melakukan silaturahmi dengan cara mendatangi rumahnya, dan anak dahulu hanya dengan melihat sandal pun mereka tau siapa saja yang berada dalam rumah. Sekarang mungkin dengan cara cek di grup kita tahu siapa saja yang aktiv di media social, dahulu kita mengajak bermain dengan cara mamanggil teman kita dengan cara berteriak di depan rumahnya, sekarang mungkin tinggal panggil lewat hanphone dan tidak usah mendatangi atau berteriak di depan rumahnya mereka bisa berkumpul.

Dahulu kita menonton Tv bersama-sama di hari Minggu karena dahulu jarang sekali yang memiliki Tv, sekarang hampir setiap rumah memiliki Tv. Membahas soal Tv zaman dahulu Tv lebar ke belekang, zaman sekarang lebar ke samping, dahulu sebelum makan berdoa bersama di pimpin oleh satu orang dan yang lain mengikuti, zaman sekarang berfoto oleh satu orang dan yang lain ingin ikut di foto, zaman dahulu warga masyarakat aktif gotong-royong di hari Jum’at, zaman sekarang aktif tekan tombol like lihat yang gotong-royong di hari Jum’at.

Semakin terlihat jelas perbedaan antara generasi terdahulu dan generasi baru yang sekarang yang lebih banyak bilang amin di kolom komentar ketimbang di masjid, lebih suka berkoar di media social padahal aslinya tidak sekritis itu tidak jarang yang di media sosial seperti macan padahal aslinya seperti kucing.

Kita boleh mengikuti perkembangan zaman bahkan harus tapi tidak separah itu sampai kita lupa akan kewajiban kita sebagai manusia yang seharusnya lebih sering bilang amin di masjid dan yang seharusnya banyak bicara di depan umum untuk memberikan hal yang positif untuk masyarakat lainnya dan memberikan contoh yang baik untuk oran-orang yang lebih muda dari kita dan menghargai orang yang lebih tua dari kita.

Kesimpulanya adalah ikuti perkembangan zaman tapi tidak untuk hal yang berbau negatif. Jangan sampai kita ketinggalan zaman dan jangan sampai kita melupakan kebiasaan generasi terdahulu, utamakan keselamatan karena tidak menutup kemungkinan orang berbuat jahat melalui media sosial yang kita gunakan sehari-hari, karena semakin mudahnya komunikasi lewat media sosial para penjahat pun lebih mudah melakukan kejahatanya melalui penipuan atau menyebarkan aib kita. Ingat seribu manfaat di media sosial seribu kejahatan pula yang mengintai kita. (*)


Disusun oleh:
Nama: Ginanjar Yazid
Pekerjaan: Mahasiswa STAI DR.KHEZ Muttaqien Purwakarta
Jurusan: Tarbiyyah
Prodi: PAI
Kelas: 1 D (semester 1)

Jabar News | Berita Jawa Barat

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top