Smartcity

Kasus Difteri Cukup Marak, Pemkot Bandung Gelar Ori

JABARNEWS | BANDUNG – Kota Bandung bakal menyelenggarakan outbreak response immunization (ORI) atau yang lebih terbiasa disebut imunisasi masal khusus difteri. Hal itu karena di provinsi Jawa Barat kasus difteri sudah menjadi kejadian luar biasa (KLB). Selain itu, Bandung merupakan kota terbuka, di mana bisa keluar masuk warga dari luar Kora Bandung.

Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Bandung Rita Verita menerangkan, imunisasi serentak ini dilakukan sebanyak 3 kali dalam satu tahun. Pertama dilakukan 1 Februari-Maret, kedua dilakukan pada 1 Juni-Juli, dan kali ketiga dilaksanakan 3 Desember-Januari 2019.

“Imunisasi diberikan kepada anak Usia 1 tahun- 18 Tahun, dengan sasaran 692.740 orang. Dengan pos pemberian imunisasi sebanyak 4466, yang tersebar di 2167 sekolah, 2049 posyandu, dan pos pelayanan lainnya 250,” tegasnya.

Pemberian imunisasi ini, tidak terpengaruh riwayat imunisasi. Jadi, untuk anak yang sudah mendapatkan imunisasi difteri sebelumnya, akan di imun kembali.

“Namun akan dilakukan cek kesehatan. Karena anak yang mendapat imunisasi harus dalam keadaan sehat,” tambahnya.

Untuk efek samping imunisasi, Rita mengatakan, efeknya beragam bagi setiap anak. Bergantung kondisi masing-masing anak. Ada efek ringan, seperti gatal, pegal dan bengkak di area penyuntikan, yang bisa dihilangkan dengan dikompres. Sampai efek demam, jika memang kondisi badan tidak baik.

“Tetapi kita mempersiapkan antisipasi, jika memang ada efek samping terhadap anak,” tambahnya.

Diungkapkan Rita, semua warga Bandung berhak mendapatkan imunisasi gratis ini. Karenanya akan ada sweeping kepada warga, yang belum sempat mendapatkan imunisasi.

Dengan diadakannya imunisasi serentak ini, diharapkan bisa menekan angka penderita difteri di Kota Bandung. Pasalnya tahun 2017, ada sembilan kasus penderita difteri. Salah seorang diantaranya, warga Kota Bandung namun berkerja di Jakarta.

“Sebagai contoh, bahwa penyakit ini sangat mudah terbawa oleh individu, dan ditularkan dengan mudah melalui air liur dengan cara batuk dan bersin, sehingga kita pantau juga keluarganya yang disini,” terangnya.

Difteri adalah penyakit infeksi yang menular diakibatkan oleh bakteri corynebacterium diphteriae. Bahkteri mudah berkembang diakibatkan pola hidup dan lingkungan yang tidak sehat. ‎

Gejala difteri  diantaranya, demam, batuk, ruam pada kulit, lemas, sakit tenggorokan. Jika terdapat gejala tersebut, maka pasien akan dicek lab, untuk mengetahui apakah positif difteri atau tidak.

“Jika positif akan dilakukan penanganan lebih lanjut, dan pemeriksaan terhadap keluarga terdekat,” tegas Rita.

Laporan : Evi Damayanti

To Top