Leisure

Pungli Tarif Parkir Bus Parawisata di Bandung Capai Rp.200 Ribu

JABARNEWS | BANDUNG – Tarif parkir kendaraan bus parawisata di Kota Bandung semakin menggila. Ketiadaan regulasi yang pasti dari Pemkot Bandung, menyebabkan tarif parkir bisa mencapai Rp.100 – 200 ribu. Hal ini dikeluhkan para turis, travel agent, dan para tour guide.

Informasi yang diperoleh menyebutkan, tarif parkir ‘selangit’ yang dikenakan pengelola parkir manual di sejumlah tempat lokasi belanja seperti di Jalam Cihampelas, Dago, Braga, Riau, Pasar Baru dan lokasi, serta sudah berlangsung dalam 5 tahun terakhir.

Ketua Kumpulan Guide Bandung, Ricky Syafie mengatakan, sejak tarif parkir Rp 30 ribu/bus sekitar 5-6 tahun hingga hari ini mencapai Rp.100-200 ribu sekali parkir, tidak ada upaya penertiban atau penyeregamam tarif dari Pemkot Bandung.

“Kondisi ini sangat tidak membuat nyaman para pelaku parawisata di Bandung, seperti travel agent, para tour guide sejak lama. Bahkan turis yang datang pun selalu keheranan ketika tarif parkir di Bandung sangat tinggi,” ujarnya di Bandung, Rabu (17/01/18).

Pihaknya kata dia, selalu menerima keluhan travel agent dari luar Bandung, ketika akan membawa tamu-tamu mereka ke Bandung. Menurut Ricky, tarif parkir ‘selangit’ ini jelas merupakakan prakti pungli dan ini sangat merugikan serta sudah berlangsung lama.

“Memang sejumlah tempat belanja, tidak memiliki area parkir yang memadai. Sehingga bus parkir di tempat darurat.Tapi tidak harus dikenakan tarif sampai Rp 200 ribu. Hal ini akan membuat citra buruk Kota Bandung bagi para turis yang datang,” paparnya.

Ricky menambahkan, sejumlah area tempat belanja yang menerapkan pungli parkir sangat tinggi antara lain, kawasan wisata belanja Jalan Cihampelas, Dago, Braga, Riau, Pasar Baru, Dalam Kaum Alun-alun, dan lainnya.

Seorang Tour Guide di Bandung, M. Nurdin kepada Jabarnews.com mengaku, petugas parkir yang menanggih sepertinya tidak resmi, karena tidak berseragam,. Meski kadang pembayaran parkir disertai kwitansi dan tertera Rp. 100-200 ribu.

“Kita sendiri kerap mengeluhkan ini, tapi seperti tidak ada yang mengubris. Sehingga kita sendiri kerap merasa tidak nyaman ketika tamu kita dimintai parkir hingga Rp 100 ribu,” kata dia

Tarif ini lanjut Nurdin, untuk bus berukuran besar.Sedang bus ukuran 3/4 (micro) dikenakan tarif Rp 100-150 ribu. Terkesan ini menjadi pembiaran, padahal ini menjadi masalah yang mengganggu.

“Harus dinas terkait,bisa membuat regulasi yang baik biar ada kepastian untuk kami semua sebagai pelaku parawisata. Selain itu keberadaan pengamen liar yang suka memaksa masuk ke bus, bahkan kerap meminta uang secara paksa kepada tamu,” tandasnya.

Laporan : Robby Ibonk

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top