Smartcity

Sawah Abadi Kota Bandung Sumbang PAD Rp 325 Juta

 

JABARNEWS | BANDUNG – Pemkot Bandung selama ini sudah memiliki sawah abadi, sayangnya belum jadi pemasukan karena masih dikelola kelompok tani.  Nah sudah setahun lalu sejak akhir Desember 2016 akhirnya pengelolaan sawah abadi bisa masuk jadi pendapatan asli daerah (PAD).

Menurut Kepala Dinas Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Elly Wasliah mengatakan hasil dari sawah abadi atau dari sekitar 25 hektare menghasilkan pendapatan sekitar Rp 325 juta.

“Sawah abadi pemkot itu ada 32,8 hektare. Tapi ada lahan kering dipergunakan kantor, kebun, peternakan dan sisanya untuk sawah jadi hasilnya gabah yang terjual Rp 325 juta. Hasilnya bukan gabah namun sesuai aturan dari BPK aset itu harus masuk kas daerah sehingga kita terima
nominalnya bukan gabahnya,” jelas Elly disela mendampingi wakil wali kota Bandung Oded M Danial saat berkunjung ke sawah abadi di RW 08 Cisurupan, Kel Cisurupan, Kec Cibiru, Kamis (25/1/2018).

Rencananya kata Elly dilokasi tersebut bakal ada kawasan agrowisata.

“Dalam rangka memproduktifkan aset-aset ada 6 hektare. Jadi kami diberi tambahan aset oleh pemkot 6,5 hektar dari Cisurupan ke Palasari, dibangun UPT holtikultura dan ketahanan pangan, fungsi  utamanya pembibit‎an tapi dikemas agrowisata, green house, buah petik, ada peternakan,” terangnya.

Sehingga kedepan sawah abadi selain jadi pemberdayaan ekonomi masyarakat, juga jadi kawasan wisata Bandung Timur.

“Saat ini sawah abadi dikelola Mulya Abadi, mulai dari bibit hingga panen. Kita hanya lahan saja perhektare bisa menghasilkan 6-8 ton gabah,”jelasnya.

Wakil wali kota Bandung Oded M Danial mengatakan sawah abadi harus berfungsi sebagai ruang terbuka hijau (RTH), bisa menambah PAD dan masyarakat sebagai pengelolanya.

“Kita hari ini berkunjung ke sawah abadi milik pemkot. Ini kan dikelola masyarakat 70 persen petani dan 30 persen pemkot, tapi semua urusan biaya semuanya dari petani,” papar Oded.

Masih kata Oded, kota Bandung membutuhkan 600 ton beras per hari, sementara jumlah yang ada kontribusi sawah baru 5% dan sisannya masih mendatangkan dari kota lain.

“Karena kita punya dinas pertanian dan ketahanan pangan, diharapkan bisa menjadi solusi dan antisipasi apabila ada perlu bantaun beras secara langsung. Dan ke depan komitmen untuk menambah lahan kuantitas dan lahan yang sudah ada bisa ditingkatkan efektifitasnya. Aset tanah jangan hanya aset sawah saja yang produktif, makanya nanti dibuatkan laboratorium dan hidroponik,” tegas Oded.

Laporan : Evi Damayanti

To Top