Daerah

Resmikan Tol Air, Emil: Soal Banjir, Kita Tak Bisa Takabur

Ridwan Kamil (Foto: Net)

JABARNEWS | BANDUNG – Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil, terus berupaya menanggulangi banjir. Seperti menyiapkan 3 ribu orang petugas sampah yang bertugas mengangkut sampah di sungai dan menyediakan 12 eskavator

Selain itu, kata Emil, sapaan akrabnya, ada juga program sumur biopori, penambahan gorong-gorong, pembangunan tol air Pagarsih, dan sodetan di kawasan Pasteur.

“Di kawasan Pasteur itu, awalnya kan sungainya lurus dan sempit, sekarang sudah disodet, sehingga aliran air di sungai lancar,” jelasnya kepada wartawan, usai peresmian Tol Air Pagarsih, Selasa (13/2/2018).

Pada peresmian tol air itu Emil akui tidak mungkin menghilangkan banjir, karena itu merupakan faktor alam. Hanya saja Pemkot melakukan upaya berdasarkan keilmuan.

“Urusan banjir itu di luar kuasa kita, kita tidak bisa takabur,” tegasnya.

Panjang tol air Pagarsih itu sekitar 220 meter, dengan dimensi 5X3,5 meter. Pembangunannya menghabiskan biaya Rp11 miliar selama 3,5 bulan.

Sementara itu, salah seorang warga sekitar, Kosasih Sanjaya, mengatakan, sejak dibangunnya tol air ini memang banjir tidak besar.

“Pernah ada banjir setelah hujan besar, satu kali. Tapi tidak terlalu tinggi, karena air langsung surut,” katanya.

Dalam proyek pengerjaan ini, Kosasih menghibahkan tanah seluas 40 meter persegi, untuk kelancaran pembangunan proyek.

“Dengan pembangunan ini bisa mengurangi banjir. Jadi ya saya hibahkan saja tanahnya,” akunya.

Menurut Kepala Dinas Pengerjaan Umum (DPU) Kota Bandung Arief Prasetya, sistem kerja tol air ini, air hujan yang meluap akan ditampung air di bak kontrol. Lalu jika bak kontrol terlalu penuh, maka akan dialirkan ke anak sungai Citepus.

“Program ini memang untuk normalisasi sungai Citepus. Sebagai solusi banjir di JL Pagarsih. Fungsinya menjadi pengalihan sekaligus menambah volume debit Sungai Citepus,” tambahnya. (Vie)

Jabarnews | Berita Jawa Barat

To Top