Smartcity

Setelah 4 Tahun Menunggu, Akhirnya Impian Emil Agar Bandung Miliki Metro Kapsul Terwujud

Wali Kota Bandung Ridwan Kamil (tengah) bersama jajarannya, perwakilan Kemenhub dan PT PP membunyikan sirine tanda pencanangan Metro Kapsul, di Jl Dalem Kaum, (foto : red)

JABARNEWS | BANDUNG – Wali Kota Bandung Ridwan Kamil  sumringah saat memberikan sambutan pada pencanangan metro kapsul di Jl Dalem Kaum, Senin (12/2/2018).

Kenapa tidak, pasalnya janji kampanye ia 4 tahun lalu menghadirkan transportasi modern di Kota Bandung terwujud, padahal banyak pihak menyangsikanya. Dalam 1,5 tahun moda transportasi metro kapsul itu bakal hadir melayani warga Bandung dan wisatawan. Namun demikian metro kapsul yang digadang dibuat di jalan sepanjang 40 km se-kota Bandung itu baru bisa 8,5 km itu.

Menurut orang nomer satu di Bandung ini, dengan dicanangkannya mega proyek semua proses urat ijin pembangunan metro kapsul sudah turun dari kementrian perhubungan. Itu artinya untuk ground breaking stasiun-stasiun dan lainnya bisa dilakukan kendati masih menunggu Ijin mendirikan bangunan (IMB).

“IMB sedang finalisasi juga jadi tidak ada masalah. Tapi tiang-tiang bisa dibangun ada beberapa komponen dari stasiun, infrastruktur bawah dan sebagainya masing-masing proses berlangsung sesuai kebutuhannya,” jelas Emil dengan penuh suka cita.

Selain bangga terwujud, Emil sapaan akrabnya pun mengaku senang karena ternyata anggaran proyek megah itu bisa tanpa mengandalkan APBN. Hampir 98% teknologi anak bangsa, para insinyur nya sebagain besar di Bandung.

“Dirancang di Gedebage, di Setrasari, di tes di subang dan akan dipraktekkan pertama di Bandung. Biaya nya juga 1/3 dari LRT Jabodetabek atau LRT sekarang di Palembang Rp 150 miliar per km, sehingga koridor 3 dengan panjang 8,5 km itu investasi hanya Rp 1,4 triliun,” jelas Emil.

Koridor tiga didahulukan diakui Emil, Karen koridor 3 dinilai paling gemuk penumpangnya. Rute koridor 3 sendiri yakni Jl Otista, Jl Dalem Kaum, Jl Dewi Sartika, Jl Buah Batu, Jl Palasari, Jl A.Yani hingga ke Stasiun Hall.

Anggaran itupun bukan dari APBD Kota Bandung melainkan murni investor yang mengikuti lelang yakni PT PP (persero) Tbk. Sehingga PT PP lah nanti yang mengelola dari mulai pembangunan hingga beroperasi.

Karena harga tiket hanya Rp 6.000 – 7.500, maka strategi pengoperasian didekatkan dengan pasar-pasar yang ada tengah pusat wisata Kota Bandung
seperti Pasarbaru, pasar Kosambi dan pasar Palasari. 

“Makanya ada penugasan kerjasama pada direksi PD Pasar untuk berkolaborasi ikutan inves karena ada penumpang mengalir ke pasar-pasar. Sehingga warga mau ke pasar tidak harus repot naik angkot kena macet. Nanti dibuat pintu khusus masuk kedalam,” paparnya.

Proses pembangunan sendiri diucapknya sudah mulai. Dari mulai pembangunan pabrik, titik pancang, stasiun. Semua mulai tapi tidak berbarengan.

Ditempat yang sama Direktur Pengembangan Bisnis PT  PP Lukman Hidayat menyampaikan saat ini pihaknya tengah melakikan sosialisasi trase kepada masyarakat yang terkena dampak pembangunan.

Desainnya pun sedang dibangun di karoseri atau pabriknya, begitupun pilar tiang tengah di produksi di workshop.

“Nah untuk 2% nya lagi yakni komponen software nya masih dikerjakan di Slovakia. Insayallah 1,5 tahun pembangunan selesai. Kita minta  dukungan masyarakat untuk koridor 1 ini semakin cepat semakin lancar,” jelas Lukman.

Lukman pun menyebutkan alasan metro kapsul ini bisa lebih murah. Karena semu komponen dari dalam Negeri.

Sistemnya tidak seperti LRT satu satu, sebab bukan rangkaian sehingga beban kontruksinya lebih murah, beban beton-betonnya 70% lebih murah dari keretanya. Berbeda dengan rangkaian yang justeru lebih berat.

“Kecuali saat berhenti di stasiun nyambung semua. Soal kualitas lebih canggih teknologinya yang tadinya ada supir nantinya bakal gak ada supir dan jelas tahan gempa karena sudah hasil tes,” beber Lukman. (Vie)

Jabarnews | Berita Jawa Barat

To Top