Selama 15 Tahun Janin Bayi Ini Berada Dalam Perut

Tapi tidak bisa tumbuh sempurna dan tersedot ke dalam peritoneum dan diubah menjadi batu.

Ilustrasi: (Foto: Net)

Keluarga tersebut tidak menginginkan bayi kedua

JABARNEWS | BANDUNG - Kasus pertama lithopedion dilaporkan oleh seorang dokter Arab, Abu-al-Quasim (936-1013), pada abad ke-10.

Mangala Ketkar menjelaskan kasus tersebut muncul karena telur yang telah dibuahi kadang-kadang berpindah ke perut dan mulai tumbuh di sana.

"Tapi tidak bisa tumbuh sempurna dan tersedot ke dalam peritoneum dan diubah menjadi batu. Dalam kasus ini, karena pasien melakukan aborsi, dan menstruasinya kembali normal, baik dia maupun orang lain tidak bisa mengira dia hamil kecuali dilakukan sonografi," ucap Mangala.

Junankar menambahkan pasien tersebut mengandung bayi pertamanya pada 2000. Tapi, dia hamil lagi pada 2002. Tapi keputusan mengejutkan dibuat pasangan itu. Keluarga tersebut tidak menginginkan bayi kedua sehingga mereka memilih aborsi. Setelah aborsi, wanita itu mendapat menstruasi seperti biasanya.

Karena tidak dilakukan sonografi, baik dia maupun dokter tidak mengira bayi itu masih di sana. Karena aborsi dilakukan di awal kehamilan, maka tidak diperlukan sonografi. Tapi, akibatnya dia menderita sakit perut yang tidak sembuh-sembuh meski mengunjungi beberapa dokter.

"Dokter memberikan penanganan sesuai dengan gejala yang dia katakan. Sehingga dokter juga menganggap pasien sakit perut biasa," katanya.

Sakit perutnya semakin menjadi-jadi dan dia mulai muntah-muntah. Setelah diperiksa ternyata itu adalah janin wanita itu yang sudah dia aborsi 15 tahun silam.

Sumber: www.dream.co.id

Janin Bayi 15 Tahun Dalam Perut Lithopedion