Ternyata Anemia Dapat Menyerang Anak-Anak

"Anemia pada anak juga dapat menimbulkan perilaku makan yang tidak biasa (yang disebut pica) seperti mengonsumsi es batu, tepung, tanah, rumput, dan daun-daunan."

Ilustrasi. (Foto: pixabay.com)

Dengan menurunnya sistem imun/kekebalan tubuh, anak menjadi rentan terkena berbagai macam infeksi

JABARNEWS | BANDUNG - Seperti yang kita tahu, anemia dapat terjadi karena kurangnya zat besi dalam tubuh sehingga cadangan zat besi untuk pembentukan sel darah merah pun berkurang yang menyebabkan kadar hemoglobin (Hb) darah kurang dari normal. Tak hanya menyerang orang dewasa saja, penyakit ini pun dapat terjadi pada anak balita dan usia sekolah. 

Hasil survei kesehatan rumah tangga (SKRT) melaporkan bahwa kejadian anemia defisiensi besi sebanyak 48,1% pada kelompok usia balita dan 47,3% pada kelompok usia anak sekolah.

"Anemia pada anak juga dapat menimbulkan perilaku makan yang tidak biasa (yang disebut pica) seperti mengonsumsi es batu, tepung, tanah, rumput, dan daun-daunan. Kondisi ini biasanya pulih setelah anemia teratasi dan anak tumbuh dewasa," ujar Jansen Ongko MSc, RD, selaku konsultan gizi, edukator, pengarang buku dan juga founder dari Lagizi Health & Nutrition Services.

Pada fase awal penyakit, anemia pada anak biasanya tidak menunjukkan gejala apapun, namun jika terus berlanjut atau kadar Hb sangat rendah, kurangnya sel darah merah yang membawa oksigen menyebabkan tubuh kekurangan pasokan oksigen dan organ tubuh tidak berfungsi dengan baik sehingga timbul berbagai gejala seperti anak menjadi mulai lemas, lelah, lesu, kulit terlihat pucat, kuku jari tangan pucat, sesak napas, berat badan tidak naik optimal bahkan dapat terjadi penurunan berat badan. 

Dengan menurunnya sistem imun/kekebalan tubuh, anak menjadi rentan terkena berbagai macam infeksi.

Anemia Defisiensi Besi (ADB) pada anak akan memberikan dampak yang negatif terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak, yaitu dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi. 

ADB ini pun dapat berdampak buruk pada otak karena dapat menyebabkan transfer oksigen terhambat, kecepatan hantar impuls syaraf terganggu, serta gangguan perilaku dan konsentrasi sehingga anak akan, mengalami penurunan daya konsentrasi, daya ingat rendah, dan tingkat IQ yang rendah yang mengakibatkan penurunan prestasi belajar dan kemampuan fisik pada anak.

Selain itu, berkurangnya kandungan zat besi dalam tubuh juga dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan organ tubuh akibat oksigenasi ke jaringan berkurang. 

"Zat besi paling banyak terkandung dalam kelompok lauk-pauk, seperti hati, daging sapi, telur, dan ikan sebagai sumber protein hewani yang mudah diserap. Dari kelompok zat tepung, dapat berupa gandum, jagung, kentang, ubi jalar, talas, beras merah atau putih, dan ketan hitam. Dari kelompok sayuran terdiri dari kacang-kacangan, kismis, tahu, dan kacang mete. Dan dari kelompok buah, terdapat pada kurma, apel, jambu, pepaya, belimbing, alpukat, nangka, salak, dan srikaya," tambahnya. 

Saatnya kita lebih memperhatikan kondisi kesehatan buah hati kita tercinta, jangan sampai terlambat mendeteksi gejalanya agar bisa segera ditangani dengan baik untuk menghindari terjadinya hal-hal yang tak diinginkan.

Sumber: www.vemale.com

Anemia Menyerang Anak-Anak Anemia Defisiensi Besi