Ulama dan Masyarakat Tasikmalaya Dihimbau Ikut Sukseskan Pilkada Serentak 2018

Pilkada serentah tahun depan bisa berjalan aman, lancar, damai, penuh kesejukan dan menghasilkan pemimpin yang amanah dan mencintai rakyat.

Jabarnews.com

Umat Islam jangan terjebak pada persoalan khilafiyah serta fanatisme sempit

JABARNEWS | BANDUNG - Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar (Demiz) meminta para ulama di Kabupaten Tasikmalaya untuk turut serta dalam mensukseskan pilkada serentak 2018 di Jawa Barat. Sehingga pelaksanaan pilkada serentak 2018 pun bisa berjalan dengan aman dan lancar.

"Mari kita perkuat toleransi, ukhuwah Islamiyah, ukhuwah Wathoniyah, ukhuwah Basyariyah dan hubbul wathon atau rasa cinta tanah air, sehingga kita dapat bersama-sama melanjutkan pembangunan daerah dan nasional, termasuk untuk menyukseskan agenda Pilkada Serentak Tahun 2018 di 17 daerah di Jawa Barat," papar Deddy saat  bersilaturahim  dalam rangka Qini Nasional Ke-136 Pondok Pesantren (Tarekat) Idrisiyyah Kabupaten Tasikmalaya, Sabtu (2/12/17).

Dia berharap, pilkada serentah tahun depan bisa berjalan aman, lancar, damai, penuh kesejukan dan menghasilkan pemimpin yang amanah dan mencintai rakyat. Selain itu,  dalam mewujudkan pilkada serentak tersebut masyarakat perlu meningkatkan rasa toleransi.

"Kita maklumi bersama, Indonesia adalah bangsa besar yang memiliki 17.000 pulau, 714 suku, dan 1.100 lebih bahasa daerah. Tidak ada bangsa lain di dunia yang menyamai keberagaman bangsa Indonesia," ungkapnya.

Menurutnya, hal ini merupakan karunia Allah SWT yang sudah seharusnya disyukuri, dengan cara memelihara dan merawat kebhinekaan sebagai sebuah bangsa. Apalagi, kata dia, kemerdekaan Indonesia yang telah dinikmati selama 72 tahun bukanlah merupakan pemberian bangsa kolonial atau penjajah, melainkan atas berkat rahmat Allah SWT serta hasil perjuangan, cucuran keringat, darah, dan air mata seluruh rakyat Indonesia/

"Termasuk hasil perjuangan para ulama yang menyerukan kepada kaum santri dan umat Islam nusantara untuk turut berjuang melawan penjajah sebagai jihad fisabilillah.Hubbul wathon minal iman, itulah seruan cinta Tanah Air ulama Indonesia yang tidak dimiliki ulama-ulama di negara manapun," jelasnya.

Selain itu, lanjut Deddy, pelajaran cinta tanah air yang patut dicontoh dari para pendiri bangsa adalah ketika dirumuskannya Pancasila, dimana para tokoh dari kalangan muslim pada saat itu dengan lapang dada menyetujui rumusan Sila Pertama, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, dan tidak bersikeras mempertahankan Ketuhanan dengan Kewajiban Menjalankan Syariat Islam bagi pemeluknya.

"Ini menunjukkan  bahwa sejak awal berdirinya, Indonesia bukanlah negara agama, namun bukan pula negara sekuler. Indonesia adalah negara kesatuan yang berlandaskan Pancasila sebagai dasar negara, dan Undang-Undang Dasar Tahun 1945 sebagai konstitusi," ucapnya.

Berangkat hal tersebut, sambungnya, sebagaimana yang sudah sering disampaikan oleh para ulama besar, semua pihak harus senantiasa menyadari bahwa Keislaman dan Keindonesiaan merupakan Sunnatullah, tidak dapat dipisahkan dari republik ini.

"Lebih dari itu, sebagai generasi penerus dan pewaris api perjuangan para ulama terdahulu, kita harus terus memegang komitmen dan menjalin sinergi untuk mempersatukan Keislaman dan Keindonesiaan, agar saling melengkapi dan juga saling menguatkan, bukan saling meniadakan," ungkapnya.    

Wujud konkretnya yaitu dengan senantiasa bersatu padu merawat kemajemukan bangsa, mengedepankan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi dan golongan, dan saling menghormati baik intern umat beragama maupun antar umat beragama.

"Kunci dari semua itu adalah toleransi, karena toleransi sejatinya merupakan puncaknya ilmu sehingga orang yang tidak memiliki toleransi mencerminkan kedangkalan ilmunya," tukasnya.

Dia menambahkan, Rasulullah SAW sebagai suri tauladan umat Islam pun mencontohkan toleransi. Bahkan Rasulullah mencontohkan toleransi dalam ibadah.

"Oleh karena itu, saya pun mengingatkan agar umat Islam jangan terjebak pada persoalan khilafiyah serta fanatisme sempit terhadap madzhab suatu organisasi, sehingga saling menjelek-jelekkan dan saling menghakimi satu sama lain, yang berujung pada perpecahan umat dan konflik horisontal," paparnya.

Apalagi imbuh Deddy, jika fanatisme itu bertujuan untuk mengganti dasar negara Pancasila menjadi negara Islam sekalipun, itu jelas tidak sejalan dengan spirit hubbul wathon, karena Pancasila merupakan konsensus bersama yang harus dijaga oleh kita semua, demi keutuhan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tanpa toleransi, katanya lagi,  tidak akan timbul sikap saling hormat menghormati, sehingga kedamaian pun akan jauh dari bumi Ibu Pertiwi.

"Untuk itu, mari kita kedepankan Islam Wasathiyah atau Islam yang moderat, Islam rahmatan lil alamin, sehingga umat Islam sebagai khoiru ummah dapat menjadi  kekuatan utama dalam membangun bangsa dan negara ini ke arah yang lebih maju, adil dan sejahtera," pungkasnya.

Laporan: Redaksi