Perokok Adalah Penderita Gangguan Mental

Perokok Adalah Penderita Gangguan Mental

JABAR NEWS | BANDUNG – Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung Nina Manarosana mengatakan untuk tidak menjauhi para perokok melainkan justru merangkulnya agar mau mengurangi rokok dan berhenti. Menurutnya, para perokok itu bukan untuk dimusuhi, bahkan perlu dikasihani.

“Karena mereka sesungguhnya adalah penderita. Mereka itu orang yang sakit. Sakitnya seperti orang yang terkena Narkoba dan HIV/AIDS. Sakitnya ada pada mentalnya, seperti gangguan jiwa,” ujar Nina dalam Bandung Menjawab di Media Lounge Balai Kota Bandung, Kamis (23/2/2017).

Pasalnya, ia menyebutkan, pada organ otak para perokok terdapat bagian tertentu yang rusak. Hal itu menyebabkan perasaan tidak tenang dan gelisah ketika tidak merokok. Padahal, ketika ia merokok, itu justru akan semakin merusak bagian otak tersebut.

Kenyataan tersebut membuatnya tersadar bahwa dirinya tidak boleh membenci perokok. Meskipun, ia juga tidak bisa mengabaikkan masih banyaknya orang yang merokok di Kota Bandung. Ia mengungkapkan fakta bahwa belanja rokok dan tembakau menempati urutan kedua pada pola belanja masyarakat Kota Bandung. Angka itu lebih tinggi daripada belanja kebutuhan pokok seperti beras, daging, dan sayur mayur.

“Perilaku merokok itu menghabiskan anggaran paling besar. Tahun 2014-2015 pola belanja masyarakat Kota Bandung paling tinggi adalah belanja bahan jadi. Kedua, rokok, tembakau dan sirih. Setelah itu baru padi-padian, ikan, daging, dan sebagainya. Buah dan sayur itu paling bawah,” tutur Nina mengungkapkan keprihatinannya.

Ia mengatakan salah satu upaya untuk menyembuhkan perokok adalah melalui konseling. Di Kota Bandung, telah ada Klinik Berhenti Merokok yang tersebar di 7 Puskesmas, yakni di Kopo, Jalan Ibrahim Adjie, Jalan Puter, Jalan Talaga Bodas, Ujungberung, Cipamokolan, dan Sindangjaya.

Dampak rokok nyatanya tidak hanya terasa pada si perokok itu sendiri. Nina mengemukakan, saat ini angka penderita Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) pada Balita Kota Bandung terbilang tinggi. Hasil penelusurannya menyatakan, hal tersebut disebabkan oleh faktor orang tua yang merokok.

“Banyak kasus pnemonia yang disebabkan rokok, banyak di anak kecil. Karena orang tuanya merokok dan lalu anaknya terpapar. Makanya saya suka bilang, silakan bapak yang merokok, tapi jangan sakitnya ditularkan ke anaknya,” katanya.

Ia seringkali menyayangkan kepada para perokok yang selalu mengatasnamakan hak asasi ketika sedang merokok. Menurutnya hal itu memang tidak bisa disalahkan. Tetapi para perokok tersebut hendaknya menyadari bahwa asap yang disebabkannya bisa berdampak buruk bagi kesehatan orang lain.

Nina menjelaskan bahwa ketika perokok menghisap tembakaunya, terdapat 104 racun yang terbawa masuk ke dalam tubuh. Setelah itu, asap dari dalam tubuh akan teroksidasi dari proses di paru-paru sehingga mengeluarkan 1500 saat dihembuskan ke luar. Inilah yang menyebabkan kesehatan perokok pasif jauh lebih terancam ketimbang perokok aktif.

“Maka dari itu, kita bukan melarang merokok tapi yang merokok harus tahu diri di mana harus merokok, jadi asapnya nggak ke orang lain,” tegasnya.

Untuk itulah Dinas Kesehatan Kota Bandung tengah memperjuangkan penerbitan regulasi terkait Kawasan Tanpa Rokok (KTR). Saat ini, pihaknya telah melakukan kajian hukum dan penyusunan naskah akademis dari peraturan tersebut. Pihak DPRD pun telah mendukung penyusunan Perda tentang KTR.

“Perda ini tidak hanya bertujuan untuk melindungi bukan perokok tetapi kuga para perokok, sehingga para perokok tetap bisa merasakan udara yang sehat, tidak melulu udara yang tidak sehat karena sudah tercemar asap rokok,” katanya.(Red)

Jabar News | Berita Jawa Barat

Comments

comments

Related posts