Dari hasil penggalangan dana tersebut, terkumpul sekitar Rp630 juta yang kemudian dibagikan kepada para pekerja. Namun, Uce menyadari bahwa mengandalkan uang dari mahasiswa saja tidak cukup untuk menutupi kebutuhan kampus.
Salah satu langkah yang diambil yayasan adalah mencoba menjual salah satu gedung kampus yang berlokasi di kawasan Ciwastra, Kota Bandung. “Gedung ini dipatok dengan harga sekitar Rp25 miliar. Sudah ada yang menawar, tetapi hingga kini belum terjual,” jelasnya.
Uang hasil penjualan gedung rencananya akan digunakan untuk menghidupkan kembali operasional kampus sekaligus membayar pesangon bagi dosen dan staf yang terkena dampak penutupan fakultas.
Yayasan Bina Administrasi juga membuka peluang bagi pihak lain yang berminat mengambil alih kampus. Namun, proses ini membutuhkan dana besar.
Total dana yang harus disiapkan mencapai Rp18 miliar, terdiri dari Rp8 miliar untuk kebutuhan kampus dan Rp10 miliar untuk melunasi utang ke bank. “Jumlah ini belum termasuk biaya perizinan dan lainnya, sehingga angkanya bisa lebih besar,” imbuh Uce.
Saat ini, yayasan tengah mencari mitra atau investor, baik dari dalam maupun luar negeri. Upaya penjajakan telah dilakukan, termasuk dengan lembaga pendidikan dari Korea Selatan dan Malaysia, untuk menjalin kerja sama yang dapat menyelamatkan UB dari krisis ini. (red)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News