Live Stream Bandung 132 TV


Awig-Awig, Kearifan Lokal Indonesia Berasal dari Bali

Kearifan lokal Bali, (Foto: Istimewa)

Penulis: Jason Pratama Ong (Mahasiswa Universitas Prasetiya Mulya jurusan International Business Law)

Indonesia adalah suatu negara yang dikenal dengan berbagai ragam kebudayaan yang tersebar di seluruh kepulauan Nusantara. Salah satu kebudayaan tersebut adalah kearifan lokal atau disebut juga sebagai local wisdom, yang merupakan kumpulan nilai dan norma sekelompok masyarakat yang tinggal di suatu daerah tertentu. Kearifan lokal cenderung berkembang sesuai kebutuhan masyarakat tertentu dan diajarkan dari generasi ke generasi, karena sifatnya yang terikat pada suatu daerah tertentu. Tiap kearifan lokal memiliki pengajaran yang berbeda-beda dengan yang lain.

Baca Juga:

Nasabah Diajak Ikut Berkreasi Pada Platform Medsos Di Challenge Festival Bjb

PWI Mengetuk Pintu Langit, M.Nuh: Ikhtiar Spiritual Luar Biasa Melawan Covid-19



Awig-Awig merupakan salah satu kearifan lokal Indonesia yang berasal dari Bali. Awig-Awig merupakan suatu hukum adat Bali yang digunakan sebagai aturan khusus untuk mengatur kehidupan masyarakat adat Bali dalam wilayah Desa Adat agar masyarakatnya dapat mencapai Tri Hita Karana. Kata ‘awig’ berasal dari kata ‘wig’ yang berarti rusak dan kata ‘awig’ berarti tidak rusak atau baik. Secara harafiah, Awig-Awig diartikan sebagai sesuatu yang menjadi baik. Berangkat dari definisi tersebut, Awig-Awig adalah hukum adat Bali yang bertujuan untuk menciptakan masyarakat Bali yang ajeg dan lebih baik dari sebelumnya.

Tri Hita Karana adalah kearifan lokal lain dari Bali yang berarti “tiga sumber kebahagiaan” secara harafiah. Tri Hita Karana sendiri bersumber dari atma kerthi (penyucian jiwa), segara kerthi (penyucian laut), danu kerthi (penyucian sumber air), wana kerthi (penyucian tumbuh-tumbuhan), jana kerthi (penyucian manusia), dan jagat kerthi (penyucian alam semesta) yang terdiri dari parahyangan, pawongan, dan palemahan. Untuk mewujudkan Tri Hita Karana, terdapat tiga hubungan yang perlu diraih, yaitu parahyangan, pawongan, dan palemahan yang masing-masing mengatur hubungan tertentu. Parahyangan merupakan hubungan antara Krama Desa Adat dan Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa). Pawongan merupakan hubungan antar Krama di dalam suatu Desa Adat. Palemahan merupakan hubungan antara Krama dan lingkungan sekitar Desa Adat. Awig-Awig sebagai hukum adat berfungsi untuk memastikan ketiga hubungan tersebut terwujudkan dengan menerapkan aturan-aturan terhadap warga Desa Adat. Dengan demikian, Tri Hita Karana dapat terwujudkan juga.

Desa Adat
Halaman selanjutnya 1 2 3
Tags : Awig-awig Kearifan Lokal Indonesia Bali Pulau Dewata Jabarnews Berita Jawa Barat Berita Terkini

berita terkait

JMN Channel

Persib

Berita Populer

Berita Terkini

Mang Jabar

tag populer

unduh aplikasi