bjb

Lestarikan Tradisi di Kampung Sate

JABARNEWS | PURWAKARTA - Sate Maranggi merupakan santapan kuliner favorit di Kabupaten Purwakarta. Sudah menjadi kewajiban tersendiri bila mampir ke Purwakarta untuk menikmati Sate Maranggi.

Jika Anda berkunjung ke Purwakarta, Anda akan menemukan banyak rumah makan yang menyediakan hidangan khas Purwakarta tersebut.

Di antara banyaknya rumah makan, terdapat satu rumah makan yang tak hanya menyajikan kelezatan Sate Maranggi tapi juga mampu memanjakan pengunjungnya dengan kenyamanan suasana alam dataran tinggi di Babakan Pameungpeuk, Desa Wanasari, Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Purwakarta. Nama rumah makan tersebut adalah Kampung Sate.

Seperti namanya, sang pemilik, Iman Ulle, memang ingin membuat rumah makannya tersebut sebagai kawasan kuliner yang menyerupai kampung.

"Bisa dibilang Wanayasa kan tempatnya sate. Saya orang Wanayasa jadi ada keinginan untuk meneruskan/melestarikan tradisi," kata Iman Ulle, Minggu (18/2/2018).

Masuk ke dalam Kampung Sate, Anda akan mendapati suasana rumah perkebunan seluas 7000 meter. Sejauh mata memandang terdapat hamparan luas lahan pertanian Wanayasa, di samping juga pemandangan Gunung Burangrang yang tinggi menjulang.

Hembusan angin sejuk khas udara pegunungan selalu bertiup menggerakan dahan-dahan pepohonan pinus di sekelilingnya.

Di Kampung Sate, terdapat joglo, saung, rangon atau saung bertingkat. Kita dapat memilih tempat untuk menyantap Sate Maranggi yang lezat. Selain tiga bangunan tersebut, terdapat juga langgar untuk melaksanakan salat. Langgar tersebut dibuat dengan suasana bangunan kayu khas tempat ibadah pedesaan.

Berbicara tentang sate Maranggi di tempat ini, jangan diragukan lagi kelezatanya. Bau wangi dan rasa gurih dari Maranggi akan membuat lidah bergoyang. Daging satenya sangat terasa tidak berurat dan juga tidak terlalu berlemak. Cak kangkung dan sambal yang bahan bakunya ditanam dan diambil langsung dari lahan di rumah makan ini juga sangat terasa kenikmatannya.

Nasi yang dihidangkan di rumah makan ini juga enak. Teksturnya pulen.

"Untuk menjaga kualitas, kita pilih-pilih beras yang dipakai," kata Iman.

Menurut Iman, ia menjual kualitas dari setiap makanan yang disajikan.

Jika Anda menginginkan menu selain sate, tempat ini juga menyajikan sop iga. ayam bakar dan goreng, peda seblok,serta nasi bakar ayam kremes. Buka dari jam 9 pagi hingga 9 malam, Kampung Sate juga mempersilahkan pengunjung untuk menginap dengan membawa tenda sendiri.

Selain sebagai tempat makan, Iman Ulle yang juga seorang seniman musik Purwakarta mengaku rumah makanya juga dijadikan tempat untuk menikmati seni, baik itu seni musik maupun drama.

"Di Kampung Sate, anak-anak komunitas di Wanayasa sering bermain musik dan main drama juga," ungkapnya.

Tak hanya itu, Iman mengaku banyak pengunjung yang melakukan swafoto dan menggelar foto pra wedding.

"Banyak juga yang datang ke sini selfi-selfie. Ada yang pra wedding juga," ungkapnya.

Di sisi lain Iman sempat mengaku pertama kali membuat Kampung Sate bukan untuk berbisnis kuliner. Ia yang lima tahun lalu tinggal di Bandung, memilih pulang kampung ke Wanayasa untuk melestarikan makanan khas tradisional daerahnya.

"Berawal dari keprihatinan saya. Saya lihat di Wanayasa banyak anak muda yang enggan bertani dan memajukan daerahnya sendiri. Jadi saya asuh anak-anak muda di sini memajukan Wanayasa, salah satunya dengan membuat rumah makan ini," katanya. (Gin)

 
Tags :

berita terkait

Persib

Berita Populer

Berita Terkini

Mang Jabar

jabarnews tv

tag populer

unduh aplikasi