bjb

Salut, Mantan Napi Tobat Dan Sukses

JABARNEWS | BANDUNG - Delapan kali pria 46 tahun ini bolak balik keluar masuk penjara. Bahkan nyaris tewas saat ditangkap akibat mencuri kendaraan motor bersama adiknya beberapa tahun silam.

"Ia saat itu kabur sama adek dan teman yang jadi supir. Yang kena tembak Ade di punggungnya dan supir juga kena tetapi alhamdulilah mereka selamat setelah saya beri obat penahan sakit. Sayangnya adik saya sekarang masih di dalam," tutur Ketua Komunitas X Residivis, Heri Djuhari, mengisahkan, usai acara Bandung menjawab di Taman Sejarah, Kamis(26/4/2018).

Saat keluar penjara sekitar tahun 2000, Heri menorehkan abjat X di tanah sebagai janji mulai detik itu ia bertobat.

"Saya sudah jenuh hidup begitu. Sekarang mencoba ingin benarlah walau memang susah perjuangannya," ucapnya seraya memperlihatkan tulisan di belakang jaketnya, "Siapa bilang X residivis tidak bisa berkarya".

Heri mengaku menjadi pelaku curanmor dan pemakai serta pengedar putao sejak kelas 3 SMP. Dari situ hidupnya jauh dari kata baik.Dan dampaknya untuk mengubah stigma negatif masyarakat terhadap mantan napi ia rasakan sulit sekali.

Namun, lambat laun tekadnya untuk berubah itu ternyata membuahkan hasil. Ia dipercaya beberapa pengusaha dan sempat didatangi calon presiden.

Selain itu, kini ia dipercaya menjadi Ketua RW 06 Sukahaji, Kel. Babakan Ciparay, Kec. Bojong Loa Kaler dan itu sudah berlangsung selama dua periode.

Bukan itu saja, ia bersama para napi lain yang telah bertobat berhasil mendirikan sebuah Cafe 'Corner Fast' di depan Lapas Banceuy, Jln. Soekarno Hatta Bandung.

"Ada 100 napi di komunitas kami yang semuanya kini hidupnya jauh lebih baik. Mereka kini bertahan hidup sesuai keahlian merek, mulai dari sekuriti, petugas kebersihan, koki, tukang cukur dan lainnya. Di event Kemenkumham kemarin kita bisa menjual pin hingga Rp.45 juta sehari," ungkap Heri berpromo.

Sementara itu Kasi Kegiatan Kerja Lapas Banceuy, Raja Nuragung, mengatakan, ada 3000 penghuni lapas potensi bekerja.

Karenanya di dalam ada fasilitas pelatihan bekerja dan keterampilan.

"Sudah ada pelatihan. Kita berikan peluang untuk mereka. Di sana ada yang ke sentra produksi mainan dan lainnya. Itu membuat saya optimis dan konsen disana sebagai upaya merubah dan spirit bagi mereka," ujarnya.

Namun demikian, lanjut Raja, ada yang dikeluhkan para napi saat keluar. Mereka saat bekerja kesulitan persyaratan formal.

"KTP, KK, SKCK sulit didapat karena semua syarat tidak ada. Saat penangkapan juga KTP mereka dijadikan bukti, sehingga saat bebas tidak ada apa-apa. Malah kadang kami yang beri ongkos," ucapnya.

Bagi napi yang ikut produksi, kata Raja, ada penghasilan sehingga jadi tabungan.

"Kami berharap solusi untuk persyaratan agar dipermudah. Karena saat keinginan tobat ternyata tak didukung, mereka akan kembali," imbuhnya. (Vie)

Jabarnews | Berita Jawa Barat
Tags :

berita terkait

Persib

Berita Populer

Berita Terkini

Mang Jabar

jabarnews tv

tag populer

unduh aplikasi