bjb

Ejaan Etik, Estetik Politik Plato Dan Aristoteles

 

SEBAB dalam politik banyak intrik. Sebab dalam politik juga perlu duit. Sebab dalam politik tidak lepas soal tarik menarik. Juga oleh sebab politik soal klaim retorik.  Tapi jangan lupa, bahwa dalam politik juga ada persoalan etik dan estetik. Etik politik yang menjadi ukuran kesantunan berpolitik, sedang estetika menjadi takaran seni berpolitik.

Soal etik dan estetika politik memang bukan barang baru, dia barang lama yang sudah sejak ribuan tahun lalu ada. Karena Aristoteles pun mengatakan di Nichomachean Ethics bahwa politik itu sesuatu yang
indah dan terhormat. Sedangkan Plato bilang, politik itu agung dan mulia, wahana membangun masyarakat yang utama.

Itu politik menurut para pendahulu yang jauh di negeri sana, bagi sebagian mungkin hal itu jauh berbeda dengan kondisi yang ada. Etika dan estetika politik itu sendiri dapat tercerminkan salah satunya pada praktik komunikasi politik yang dilakukan.

Politik itu kejam, politik itu kotor, politik itu sadis, politik itu bla bla bla. Jadi, politik itu harus kita jauhi bersama. Kata sebagian orang dalam obrolan-obrolan di warung kopi, di terminal, di pangkalan ojek, di pesisir, bahkan ibu-ibu arisan dan jamiahan pun juga ikut-ikutan tak mau ketinggalan. Soal Anda sepakat atau tidak, silahkan Anda jawab sendiri, iya atau tidak.

Fakta dan realita sudah ada, tinggal dibaca dan dinilai saja. Sekarang ini kan zamannya sudah beda, orang boleh berkata apa semaunya, termasuk menilai kondisi politik bangsa. Mau berkata a i u atau o, asal masih tahu batas.

Menyoal politik, saya sendiri sepakat dengan apa yang disebut Aristoteles dan Plato di muka, bahwa politik itu indah dan terhormat. Bukan kejam, kotor, atau keji. Yang kejam kotor dan keji adalah orang-orangnya.

Para politisi yang berkompetisi mendapatkan posisi dengan menarik simpati dari masyarakat terkadang tak peduli soal cara. Ini yang jadi bahaya. Apalagi kalau-kalau rakyat salah memilih, niat hati memilih pemimpin malah dapatnya penguasa, ini akan jadi malapetaka bagi kita. Oleh karena politik bukan hanya ketika proses perebutan tahta, tapi juga saat sudah mendapatkannya dan menggunakannya.

Mereka yang terpilih adalah bermental pemimpin, akan menjalankan tahtanya sebaik dan semaksimal mungkin untuk kemakmuran masyarakatnya, tapi jika yang terpilih bermental penguasa, wah! Bisa repot urusan. Yang ada
dalam pikirannya bagaimana ia dapat menguasai apa yang ada dan melanggengkan kuasanya.

Tapi tidak perlu gusar soal itu, masyarakat hari ini sedikit demi sedikit sudah sadar dan melek terhadap politik, meskipun baru sekadar tahu. Belum sampai faham, dan pantas untuk dimaklum, karena sebanyak apapun partai politiknya, toh tidak sedikit yang absen dalam menjalankan fungsi pendidikan politik. Masyarakat kini sering diterpa informasi dari berbagai media seiring pesatnya perkembangan teknologi yang ada.

Walaupun kita ketahui bersama, media juga tidak sedikit yang diperkosa untuk memenuhi syahwat politik semata. Idealisme para jurnalis ditelanjangi pula guna kepentingan citra lewat media. Untunglah masih ada yang
berupaya mewujudkan cara berpolitik dan berdemokrasi yang dewasa, yang berorientasi falsafah dan cita-cita bangsa, bukan sebab latah, sekadar ikut-ikutan negara eropa belaka.

Sudah patut dan selayaknya kita kembali kepada Pancasila dan UUD'45 sebagai pegangan kita menjalankan kehidupan berbangsa. Indonesia kita ini merdeka sudah lama, masyarakat sudah melewati narasi panjang kehidupan demokrasi bernegara. Mereka merekam dan membaca apa-apa yang terjadi di sekelilingnya.

Masyarakat mulai melihat, mendengar dan mengamati, siapa bersama siapa, siapa melakukan apa, berbicara apa, dari mana mau kemana, mewakili siapa dan untuk siapa. Lambat laun, masyarakat juga akan memahami peran para aktor politis yang tampil dalam panggung politik dan duduk sebagai “wakil rakyat” di singgasana kursi terhormat sana.

Jadi, bagi para aktor politik jangan remehkan kami rakyat jelata, dan sadarlah bahwa engkau adalah wakil rakyat, kepanjangan tangan rakyat untuk merawat, membenahi, kehidupan rakyat dan negeri ini. Dan lebih cerdas dan bijaklah mengatur strategi dan taktik berpolitik serta menjalankan kuasa. Karena rakyat pun sudah jenuh dengan politik yang mengabaikan etik dan estetik. Bukankah Indonesia merdeka, aman, makmur, jaya, dan sentosa adalah harapan kita bersama seluruh masyarakat Indonesia?

Maka menjadi tanggung jawab kita bersama mewujudkan itu semua, berkompetisi memperoleh posisi kuasa itu hal yang wajar dan biasa. Tapi jangan kau gadaikan negara dengan segala potensinya, jangan kau pecah belah komponen-komponen bangsa.

Bagi kita sebagai rakyat, jangan mau hanya dijadikan sebagai pasar politisi. Hanya menjadi objek politik dan basis suara tanpa menjadi partner membangun peradaban bangsa. Jangan mau membeli jualan para politisi yang hanya mengobral janji. Sebab kita jugalah yang akan menentukan kondisi politik di negeri ini menjadi agung dan mulia, menjadi indah dan terhormat sebagaimana politik itu dimaknai oleh dua filusuf besar di awal tulisan, atau bahkan tidak sama sekali. ***

Jabarnews | Berita Jawa Barat
Tags :
properti

berita terkait

Persib

Berita Populer

Berita Terkini

Mang Jabar

jabarnews tv

tag populer

unduh aplikasi