Berbisnis Pakaian, Ini Kiatnya

JABARNEWS | JAKARTA - Memulai menjadi tahapan paling sulit bagi masyarakat untuk berbisnis, termasuk pakaian. Tak terkecuali bagi Owner NoonaKu Signature, Florentia Jeanne.
Ia sudah mengembangkan bisnis fesyen dengan harga jual produk maksimum Rp 100 ribu sejak 2011. "Masalahnya, memulai itu berat, apalagi kami enggak ada pengalaman dan background pengusaha. Selain itu, self limitation juga menjadi hambatan," ujar Florentia dikutip dari tempo, Minggu (8/7/2018).
Pertama, jangan takut memulai. Meski, kadangkala, banyak pemikiran-pemikiran yang menyebabkan orang batal memulai bisnis.
"Karena kalau tidak memulai kita malah tidak tahu hasilnya. Jadi jangan membatasi diri, pertarungan utama ada di dalam pikiran kita sendiri," ulasnya.
Kedua, kegagalan adalah pembelajaran. Menurut Florentia, kegagalan dalam merintis bisnis adalah kursus atau les. Ia mengatakan masa-masa itu adalah masa menuju puncak.
Ia mengenang masa di kala baru merintis bisnis. Kala itu, modalnya adalah ponsel hadiah dari acara pernikahan temannya.
Ia mencoba menjajakan produk casing ponsel melalui sosial media di ponsel barunya itu. Ternyata, produk yang dijajakannya itu tidak laku, hanya satu hingga dua unit saja yang terjual.
Dari sana, ia mempelajari bahwa casing ponsel bukan komoditas yang banyak dicari. Florentia pun tidak langsung menyerah. Ia memutar otak dan memutuskan untuk banting setir ke produk fesyen.
"Kalau gagal jangan nyerah tapi pelajari apa kesalahannya. Misalnya ngeluarin gamis tapi bukan pada waktunya, jadi itu harus dipelajari. Berikutnya jangan dilakuin lagi," ujar Florentia.
Ketiga, untuk bisnis fesyen, produk dasar adalah kunci. Florentia berujar masyarakat yang hendak memulai berbisnis fesyen sebaiknya memulai dari memproduksi maupun menjual produk dasar, misalnya kemeja putih, rok hitam, dan celana panjang hitam.
Sebab, berdasarkan pengalamannya, produk-produk dasar pasti dicari orang. "Kemeja putih dan rok kerja maupun celana panjang hitam. itu kan dari dulu sampai sekarang pasti butuh," kata Florentia.
Ketika hendak mengembangkan bisnis dengan menjual produk bermotif. Florentia menyarankan agar melakukan analisis mendalam, ihwal tren pasar dan lamanya model bertahan. "Kalau polkadot dan strip itu kan everlasting, tapi bunga itu lebih musiman."
Selanjutnya, bila bisnis pakaian tersebut sudah berjalan, Florentia yakin pembelajaran-pembelajaran akan datang dengan sendirinya. "Saya pun learning by doing," ujar dia lagi. (Yfi)
Jabarnews | Berita Jawa Barat
Tags :
teu baleg

berita terkait