bjb

Videonya Dipotong Serampangan, Dakwah Ustadz Shomad Dihadang: Batin Saya Terusik

SAYA belum pernah bertemu dengan Ustadz Abdul Shomad, saya juga tidak mengenal beliau. Akan tetapi, ilmunya saya kenal melalui seluruh ceramahnya yang beliau upload di channel youtube Tafaquh. Kontennya bernas sekaligus menyegarkan

Seluruh ceramah beliau berpijak pada ajaran Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Selain ahli hadist, beliau pun seorang faqiih yang mampu menjelaskan pendapat 4 madzhab fiqih utama secara gamblang. Wa bil khusus madzhab Imam Syafi'i yang beliau jadikan pedoman dalam praktik ibadah keseharian.

Soal tharekat, beliau mengetahui dan ittiba' bahkan hafal rantai sanad tharekat Abah Anom Suryalaya. Soal sanad keilmuan, beliau bahkan tergolong ketat, semua harus berdasarkan ijazah dari yang empunya sanad. Terkait ini, saya malah sering teringat Habib Umar bin Hafidz.

Islam Nusantara atau Islam di Nusantara pun beliau pandang secara proporsional. Lagi-lagi pendekatan sanad beliau lakukan untuk menelusuri kesahihan ajaran Islam di Nusantara yang hari ini berkembang. Sampai di sini, saya kira tidak ada persoalan.

Sebagai pengangguran yang setiap hari berkutat dengan gadget, saya melihat Ustadz Abdul Shomad sebenarnya korban tangan jahil dan keji. Video ceramah beliau sering dipotong secara serampangan oleh pihak-pihak yang sedang berkepentingan melakukan penggiringan opini.

Video-video itu viral gak ketulungan, dikonsumsi sebagai kebenaran, padahal hanya sekedar sempalan satu atau dua menit. Bahkan di antaranya saya menemukan hanya beberapa detik saja potongan video itu sengaja dipotong.

Batin saya mulai terusik melihat beberapa berita penghadangan. Teranyar, Alumni Daarul Hadist Maroko itu terpaksa membatalkan jadwal pengajiannya di beberapa daerah.

Tanpa sadar, kita tengah digiring menuju sebuah situasi filterisasi ulama dan ajaran tanpa alat uji yang sahih. Seolah-olah, kalau keluar dari mulut ulama A itu adalah kebenaran, kalau ceramah itu keluar dari mulut ulama B, maka silakan abaikan, itu sampah bukan ilmu.

Ruang pemikiran sekaligus religiusitas kita akhirnya menjadi kian sempit. Alih-alih menjadikan ajaran sebagai pedoman perilaku, kita malah membatasi sendiri ajaran itu sesuai dengan keinginan hawa nafsu.

Padahal, jauh-jauh hari, seorang 'alim pernah mengatakan

انظر ما قال ولا تنظر من قال

"Lihat, pikirkan apa yang terucap, jangan lihat, jangan pikirkan siapa yang mengucap"

Dalam kesempatan lain, seorang 'alim yang lain pernah mewanti-wanti kita

خذ ما صفى دع ما كذر

"Ambil perkara yang bersih nan suci, tinggalkan perkara yang kotor"

Hemat saya, ilmu tetaplah ilmu dengan segala kesuciannya meskipun keluar dari mulut pendosa sekalipun. Lantas, pantaskah kita memperlakukan sosok yang sanad keilmuannya teruji bagai sebuah ancaman???

Oleh: Farid Farhan
Warung Kadu, 3 September 2018
Tags :
properti

berita terkait

Persib

Berita Populer

Berita Terkini

Mang Jabar

jabarnews tv

tag populer

unduh aplikasi