Premium Dibatasi, Warga Depok Pindah ke Pertalite

JABARNEWS | DEPOK - Naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax, Pertamax Dex, dan Dexlite membuat sejumlah konsumennya beralih ke Pertalite.
Wakil Ketua Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas) Kota Depok, Tumin Purwodiharjo mengatakan, masyarakat tidak khawatir akan kekurangan BBM Pertalite. Sebab, Pertamina membebaskan SPBU, untuk mengisi dan mendistribusikan Pertalite.
"BBM non subsidi bisa dipesan dalam jumlah berapa saja, tidak dibatasi, berapa liter dikirim," ungkap Tumin.
Tapi, BBM jenis Premium yang subsidi, pendistribusiannya ke SPBU dibatasi pemerintah. Sehingga beredar informasi jatah per SPBU hanya diberikan satu kali dalam seminggu. "Sebanyak 42 SPBU di Depok pun sama, pesan Premium dibatasi," kata dia.
Menurutnya, kenaikan harga BBM non subsidi ini melihat harga minyak dunia naik. Tapi akan kembali turun jika harga minyak dunia turun.
"Memang melihat kenaikan Pertamax, banyak konsumen pindah ke Pertalite atau Premium. Itu akan berangsur lamanya satu minggu," katanya.
Terpisah, keputusan pemerintah yang batal menaikkan harga BBM jenis premium berpengaruh pada PT Pertamina (Persero). Meski begitu, perusahaan pelat merah itu tetap yakin kondisi keuangan baik-baik saja.
"Kondisi keuangan kita baik-baik saja di semester I/2018. Ada tekanan harga minyak, nilai tukar memang pasti menekan Pertamina," ujar Sekretaris Perusahaan Pertamina Syahrial Muchtar, beberapa waktu lalu.
Berdasarkan data Pertamina, harga keekonomian Premium pada Januari 2017 sebesar Rp6.900 per liter. Saat itu, harga minyak mentah Indonesia (Indonesia crude price/ICP) di level US$ 51,09 per barel.
Bandingkan dengan ICP September 2018 sebesar US$ 74,88 per barel dan harga keekonomian Premium jauh di atas Rp6.900 per liter. Apalagi, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada saat ini lebih rendah dibandingkan dengan Januari 2017.
Tak hanya itu, selain selisih harga jual, volume penjualan BBM dengan kadar oktan (research octane number/RON) 88 pada tahun ini lebih besar dibandingkan dengan realisasi pada 2017 sebanyak 7,03 juta kiloliter (kl).
Di sisi lain, Pertamina mengakui terbebani dalam hal distribusi Premium karena harga minyak mentah terus naik dan nilai tukar rupiah melemah.
Syahrial menjelaskan, kondisi keuangan perusahaan itu tak terganggu karena beban itu masih bisa dikompensasi dari hulu migas yang masih menguntungkan. "Beban penjualan Premium kompensasinya di-support dari proyek yang diberikan pemerintah," katanya.
Adapun proyek-proyek di hulu migas yang diberikan pemerintah sebagai support merespons beban penjualan Premium. "Proyek-proyek yang sedang berjalan, itu grow down dan memang baru dirasakan 2 tahun mendatang," ucapnya. (Abh)
Jabarnews | Berita Jawa Barat
Tags :
teu baleg

berita terkait