bjb

Tamiya Bukan Sekadar Mainan Biasa

JABARNEWS | BANDUNG - Mendengar kendaraan tamiya, mungkin ingatan sebagian orang akan kembali pada sebuah film kartun asal Jepang. Ya, itulah Dash Yonkuro. Film itu menceritakan tentang seorang racer yang memacu mobil kecil yang disebut tamiya pada sebuah track.
Pada era 80 dan 90 an, film ini cukup terkenal. Hingga, tak sedikit yang ingin memiliki mobil mini yang lincah. Meski ketenarannya sempat meredup, kini para pecinta mobil mungil nan lincah ini kembali bergeliat.
[caption id="attachment_59306" align="alignleft" width="300"] Para racer saat memainkan tamiya miliknya di track khusus, (Foto: Istimewa).[/caption]
Di Kota Bandung, tamiya sedang menjadi bagian dari mainan yang sedang tren. Bermacam event digelar untuk mengumpulkan para pecintanya. Berbagai jenis kendaraan pun saling unjuk kebolehan untuk menjadi siapa yang tercepat.
Salah seorang pecinta Tamiya, Indra Lesmana mengaku sudah sejak lama berinteraksi dengan tamiya. ia mengaku tertarik pada Tamiya karena memiliki berbagai keunikan. Baginya, karakter seseorang bisa terlihat dari cara memodifikasi kendaraannya.
"Saya memang sejak kecil bersentuhan dengan tamiya. Namun sempat vakum, dan berkecimpung dengan kendaraan mini ini ketika dewasa baru menyeriusi permainan ini," kata pria berkacamata ini kepada jabarnews.com, Rabu (7/11/2018).
Menurutnya, memainkan kendaraan ini tidak bisa sembarangan. Pasalnya, dibutuhkan kesabaran dalam merawat dan menyetting kendaraan tersebut.
"Kreativitas racer dibutuhkan dalam mempersiapkan kendaraan ini. Butuh kesabaran, keuletan, dan ketelitian," imbuhnya.
Terlebih, kata dia, ketika mobil akan diturunkan dalam sebuah event pertandingan. Racer harus pandai menganalisis lintasan yang akan digunakan untuk berkompetisi.
"Makanya, kalau permainan ini dimaknai dengan baik, maka racer akan mampu mengambil keputusan dengan tepat," paparnya.
Bukan hanya menganalisis lintasan, kata dia, tapi juga memilih kendaraan yang tepat untuk diturunkan dalam sebuah pertimbangan. Sebab, bisa jadi kendaraan yang diturunkan antara pertandingan satu dengan pertandingan lainnya sama.
"Racer harus memiliki sensitivitas yang sangat tinggi. Mulai dari menyetting kendaraan, memilih kendaraan, sampai dengan spare part yang digunakannya. Sebab, bukan tidak mungkin, meskipun kendaraannya mahal, tapi racernya tidak peka, maka kendaraannya tidak akan maksimal," tuturnya.
Indra menerangkan, ada dua jenis tamiya yang biasa digunakan para racer. Antara lain, Standard Tamiya Boks (STB) dan Standard Tamiya Orioginal (STO). Untuk STB kisaran harga belinya antara Rp 160 Ribu hingga Rp 500 ribu. Tamiya STB ini merupakan tamiya standar yang sudah siap untuk turun di arena perlombaan.
Sedangkan untuk STO, harganya di kisaran Rp. 2,5 juta sampai dengan Rp 4 jutau. Sama halnya dengan STB, STO ini juga sudah siap untuk diturunkan dalam perlombaan. Namun, ada beberapa part yang lainya.
"Misalnya batre charge, ban, dinamo, gear, dan lain-lainnya," imbuhnya.
Untuk di Kota Bandung, kata dia, biasanya yang kerap digunakan untuk perlombaan di Pasar Modern Batununggal Indah dan lantai 1 Metro Indah Mall (MIM) Bandung. Nah bagi para racer, diharapkan meramaikan even STO pada 25 November 2018 yang akan digelar di MIM Bandung. Even STO ini memperebutkan hadiah sebesar Rp 10 juta.
"Ada beberapa hal yang biasa menjadi penilaian dalam sebuah perlombaan tamiya. Salah satunya, kecepatan kendaraan. Bagi racer yang kendaraannya lebih cepat, akan mendapatkan reward," tuturnya. (Tri)
Jabarnews | Berita Jawa Barat
Tags :
properti

berita terkait