bjb

Usung Asian Style, Replica Jadi Contekan

JABARNEWS | BANDUNG - Bukan Kota Bandung namanya kalau bukan memiliki seabreg kegiatan di lingkungan masyarakatnya. Dari seabreg kegiatan tersebut, komunitas fotografer merupakan yang paling banyak. Salah satunya, Komunitas Replica.

Komunitas yang diprakarsai lima anak muda, yakni Rizki Adjikusumo, Juan Sarya Naktama, Dionus Agung, Rizka Muzahidin, dan Yuki Hiruma itu berkiblat pada Asian Style. Itu dipilih lantaran Replica ingin menghadirkan sesuatu yang baru di dunia fotografi Bandung.

[caption id="attachment_59857" align="aligncenter" width="1280"] Komunitas Replica berfoto bersama para model, (Foto: Istimewa)[/caption]

Asian Style ini lebih berkonsep fotografi potrait, Jepang, Koresam dan Thailand. "Replica memilih konsep daily, fotografi candid dengan mengandalkan model cewek muda, girly dengan wajah oriental," tutur Founder Replica, Rizki Adjikusumo kepada Jabarnews.com, Kamis (8/11/2018).

Replica sendiri terbentuk pada September 2017. Komunitas ini terinspirasi dari salah seorang fotografer asal Jepang Ilko Alexandrif yang menonjolkan konsep Asian dalam setiap jepretannya. Objek yang diambilnya memiliki cerita keseharian manusia.

"Sebenarnya pada 2015, saya iseng-iseng mencari model untuk dijadikan obje foto. Dari situ, foto-foto yang kami hadirkan lebih ke western. Ada keinginan dalam diri saya ingin beralih ke foto-foto Asia," terangnya.

Rizki yang saat itu didampingi dua rekannya, Juan dan Dion mengatakan, akhirnya mereka memilih konsep Asian Style untuk keluar dari zona nyaman. Kenapa, sebab konsep Asian Style ini tidak semudah konsep lainnya. Terlebih, dalam pencarian model yang harus benar-benar memiliki wajah oriental.

"Awalnya, memang kami tidak ada keinginan untuk mem-publish hasil jepretan kami. Jadi, lebih kepada untuk konsumsi sendiri. Namun, ketika mulai bermunculan media sosial, kami pun mem-publish-nya untuk umum," paparnya.

Bukan hanya fotografer, tapi juga Replica juga memiliki videografer. Konsepnya masih sama, hanya saja videografer ini mengabadikan objek yang sama dengan konsep gambar bergerak.

"Model tersebut seolah-olah sedang berjalan-jalan di sebuah taman, summer Asian dengan durasi sekitar satu menit. Jadi lebih kepada sinematik, film pendek," ungkap Videografer Replica, Dionus Agung.

Dion -sapaan akrabnya- mengatakan, ada hal lain yang dirasakannya ketika berkecimpung dalam komunitas fotografi ini. Untuk faktor eksternal, ia merasa ada rasa saling menghargai sesama fotografer meskipun berbeda komunitas.

"Dari komunitas ini, kita bisa menghilangkan ego, menjadi sebuah relasi yang baik. Bahkan, di antara sesama fotografer bisa saling memberikan support pada sebuah pekerjaan," imbuhnya.

Rizki dan kawan-kawan merasakan kepuasan bathin ketika Asian Styke dilaunching pada 2017 di Taman Dago mendapatkan respon positif dari masyarakat. Saat itu, jumlah pesertanya di luar dugaan.

"Saat launching itu, ternyata kita diterima. Banyak yang ngikutin, banyak yang mau nyontek, banyak yang tertarik untuk mencoba dan hal-hal lainnya di luar dugaan sebelumnya," paparnya.

Rizki dan kawan-kawan berkomitmen untuk terus mengembangkan Replica. Hal yang sudah dilakukannya saat ini yakni pengembangan komunitas, memberikan support kepada komunitas fotografi lain.

"Bahkan, kalau ada komunitas yang butuh model, kita support juga. Berbagi ilmu dan sharing tentang ilmu fotografi," tuturnya.

Mereka berharap, kehadiran Komunitas Replica bisa diakui di Kota Bandung, sebagai genre baru di Kota Bandung. "Yang membedakan kami (Replica, red) dengan komunitas lainnya yakni mengolaborasikan antara fotografer Asian Style dengan videografer," tuturnya.

Bagi yang ingin tahu lebih jauh soal Komunitas Replica, bisa berkunjung ke instagram Replica @replica.idbdg. Di sini, informasi apapun yang diinginkan semua tersedia. (Tri)

Jabarnews | Berita Jawa Barat
Tags :

berita terkait

Persib

Berita Populer

Berita Terkini

Mang Jabar

jabarnews tv

tag populer

unduh aplikasi