bjb

Menag Lukman Hakim Saifuddin Berikan Penghargaan Untuk Guru Madrasah Paling Menginspirasi

JABARNEWS | BANDUNG - Sebanyak lima guru madrasah yang dinilai paling menginspirasi di Indonesia mendapat penghargaan dari Kementerian Agama (Kemenag) RI. Penghargaan diberikan secara simbolis oleh Menteri Agama (Menag), Lukman Hakim Saifuddin, dalam acara "Talkshow & Penghargaan Guru Inspiratif", di Hotel Harris, Jl. Peta 241, Bandung, Jawa Barat, Sabtu (8/12/2018).
Total terdapat 49.337 guru madrasah di seluruh Indonesia yang terdiri mulai tingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI) sampai Madrasah Aliyah. Sebanyak 92,1 % di antaranya merupakan Madrasah milik swasta.
Di antara madrasah tersebut selalu ada profil-profil istimewa yang mendedikasikan hidupnya untuk sekolah dan siswa yang diampunya serta pendidikan Islam secara umum.
"Mereka adalah profil istimewa yang spirit dan perjuangannya menginspirasi kita semua. Negara dan bangsa ini berhutang kepada mereka," kata Menag yang menjadi host dalam talkshow yang mendatangkan lima guru dengan kisah-kisah unik yang menginspirasi tersebut.
Menurut Menag, para penerima penghargaan ini memiliki kesamaan, yaitu menghadapi keterbatasan fasilitas, minim kesejahteraan, dam bergelimang kisah-kisah menyedihkan.
"Tetapi mereka menaklukkan semua tantangan itu dengan kekuatan keikhlasan tingkat tinggi. Kalau kita refleksikan kepada diri kita, belum kita sanggup melakukannya," kata Menag.
Kekuatan mereka, kata Menag, dibentuk oleh kecintaan mereka kepada anak-anak didik yang luar biasa.
Para guru yang mendapat penghargaan seluruhnya berasal dari daerah-daerah terpencil.
Ahmad Haris misalnya, harus menempuh jarak berkilo-kilo meter dari rumahnya ke sekolah tempatnya mengajar di MI Pulau Bua, Alor, Nusa Tenggara Timur.
Setiap hari pria 40 tahun ini harus keluar rumah pada pagi buta, berjalan 3 kilometer melewati hutan, lalu berenang menyebrangi selat sejauh satu mil hanya untuk mengajar. Itu dilakukannya selama 15 tahun terakhir dengan gaji guru madrasah yang tak seberapa nilainya.
Selanjutnya ada sosok Indra Ariwibowo, guru MI Luar Biasa Budi Asih, Semarang, Jateng. Dia harus berjuang bersama muridnya yang pada awalnya hanya berjumlah empat orang di kelas yang selalu banjir jika musim hujan tiba.
Bersama beberapa rekannya, dirinya berhasil menghidupkan kembali sekolah tua yang sudah hampir tutup, dan mengubahnya menjadi sekolah untuk anak berkebutuhan khusus yang kini telah memiliki gedung tanah dan sendiri.
Para pendidik istimewa tersebut dihadirkan di hadapan 500 undangan yang memenuhi Convention Hall, Hotel Harris, Bandung.
Selanjutnya ada Suraidah, seorang guru yang juga Kepala MI Darul Furqan, Sebatik, Nunukan, Kalimantan Utara.
Dia mengungkapkan, daerahnya merupakan kawasan terpencil yang bergelimang kemiskinan. Secara umum siswa di daerahnya merupakan siswa miskin yang masih menghadapi masalah dengan baju seragam, sepatu, dan alat-alat sekolah.
"Ada murid saya kakak beradik yang harus memakai satu baju seragam secara bergantian dengan adiknya yang mengambil kelas sore," ungkapnya.
Lima orang guru Madrasah berprestasi dari seluruh Indonesia yang menerima penghargaan dari Kementerian Agama tersebut selengkapnya adalah Ahmad Haris, guru MI Pulau Bua, Alor, Nusa Tenggara Timur; Untung, guru MI Miftahul Ulum, Sumenep, Jawa Timur; Suraidah, guru MI Darul Furqan, Sebatik, Nunukan, Kalimantan Utara; Indra Ariwibowo, guru MI Luar Biasa Budi Asih, Semarang, Jateng; dan Supena dari MI al-Ishlah, Bani Menoy, Lebak, Banten. (Mil)
Jabarnews | Berita Jawa Barat
 
Tags :
properti

berita terkait