aqua

Budaya Literasi di Rumah

Berdasarkan data UNESCO persentase minat baca di Indonesia hanya 0,01 persen.

Membudayakan membaca untuk anak. (Foto: Istimewa)

JABARNEWS | BANDUNG - Gaung membaca sebetulnya tak harus digelorakan di lingkup lembaga formal yang bernama sekolah. Setidaknya, zaman dahulu para kiayi dan ulama besar, termasuk Rasulullah SAW juga menginstruksikan agar umatnya "membaca". Tertera jelas dalam Al-Quran, termaktub dalam surat Al-Alaq dengan ayat yang berbunyi "Iqro !", dengan terjemahan Indonesia yang berarti bacalah!

Gerakan literasi adalah tanggung jawab masyarakat yang sudah mengenal huruf. Untuk meningkatkan budaya minat baca juga tidak perlu tergantung pada tempat yang bernama sekolah. Gerakan 15 menit membaca sebetulnya juga sangat mengasyikan jika diterapkan di rumah, sebelum atau setelah belajar di sekolah. Bahkan, waktunya tidak terbatas, bisa sebelum tidur.

Baca Juga:

UNESCO Tetapkan Pencak Silat Jadi Warisan Budaya Takbenda Untuk Dunia

Bamsoet Dukung Usulan Ulos Jadi Warisan Budaya Tak Benda Dunia



Dulu, pernah ada serial bagus, dalam salah satu stasiun tv kabel berlogo WB dan Fox. Setiap episodenya yang menampilkan semi detektif di kantor CBI - California Bureau of Investigation (yang kemudian berlanjut ke FBI karena CBI ditutup), dengan konsultan pembantu dan sering mengungkap kasus-kasus pembunuhan. Tokoh yang sering disebut sebagai cenayang yang bernama Patrick Jane ini suka membaca buku sambil tiduran maupun duduk. Yang menarik dari tokoh Patrick Jane ini, selain pengamatan dan deduksi yang mantap seperti Sherlock Holmes, maupun Detektif Conan, Patrick punya ciri khas yang unik yakni suka tidur di sebuah kursi sofa. Yang paling mengesankan, meski film serial ini dibuat dengan kecanggihan teknologi masa kini, Patrick yang nyentrik masih suka membaca buku utuh dalam bentuk cetak, meskipun tengah menangani kasus rumit yang perlu dipecahkan.

Pesan dari sikapnya yang cuek dan seolah tak mau kalah, dia seolah olah ingin mengatakan bahwa membaca bisa dimana saja. Bahwa membaca bisa dilakukan sambil tiduran sekalipun, asalkan dengan penerangan yang memadai. Artinya, di sini, meski saya pribadi penyuka film, film ini ada nilai lebihnya, yakni berbobot dalam hal substansi dan dialog. Setidaknya kaum barat sana, yang selalu menampilkan kecanggihan teknologi, seolah-olah tidak mau meninggalkan kesan jadul. Mereka ingin tetap mau menonjolkan nilai-nilai klasik yang bermutu. Seolah-olah mereka ingin menampilkan buku cetak itu tetap masih bisa dinikmati dengan asyiknya. Naskah buku masih enak untuk dibaca dan secara tidak langsung, Patrick Jane adalah duta baca untuk serial film tersebut.

Apakah sudut baca, saung baca atau pojok baca/perpustakaan selalu penuh dengan pembaca? Saya ragu untuk mengungkapnya. Bila berkunjung ke perpustakaan, biasanya wajah yang sama si peminjam buku adalah pemandangan yang lazim. Wajah pembaca buku hanya yang itu-itu saja. Artinya sudah tidak aneh, perpustakaan itu mirip taman makam bahagia (tempat pemakaman), tetapi di sana banyak ilmu dan pengetahuan. Bahwa data berdasarkan UNESCO persentase minat baca di Indonesia hanya 0,01 persen mungkin ya, dan realitasnya memang demikianlah adanya. Masyarakat kita masih belum mengalami peningkatan budaya baca yang melonjak.
Halaman selanjutnya 1 2 3
Tags : Gerakan Literasi Budaya Membaca Buku Jendela Dunia Unesco

berita terkait

Begini Cara Pemkab Purwakarta Tingkatkan Budaya Membaca

Sepenggal Cerita Batik yang Menjadi Warisan Budaya Indonesia

Persib

Berita Populer

Berita Terkini

Mang Jabar

jabarnews tv

tag populer

unduh aplikasi