bjb

Simak, Ini Sederet Pencapaian Imam Nahrawi Sebagai Menpora

Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi. (Foto: Kemenpora)

JABARNEWS | JAKARTA - Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi, resmi ditetapkan tersangka dugaan kasus suap dana hibah Komite Olaheraga Nasional In donesia (KONI), Rabu (18/9/2019). Terlepas dari status tersebut, Imam memiliki kinerja yang baik dan buruk selama bertugas sebagai Menpora.

Sejumlah prestasi telah ia torehkan, begitu juga dengan berbagai kegagalan dalam masa tugasnya tersebut. Dikutip dari situs Kemenpora, Imam Nahrawi lahir di Bangkalan, 8 Juli 1973. Imam ditunjuk Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla pada 27 Oktober 2014 menunjuk dan melantik secara resmi politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Imam Nahrawi, menjadi Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) yang pada saat itu masih berusia 41 tahun.

Berikut prestasi mencolok selama Imam Nahrawi menjabat Menpora:

Bonus Besar untuk Atlet
Selepas dari urusan sanksi FIFA, Menpora Imam Nahrawi memprakarsai sejarah besar dalam hal penghargaan terhadap olahragawan, yakni pemberian bonus terbesar dalam sejarah.

Adalah peraih emas Olimpiade 2016 di Rio de Janeiro Brasil, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir yang merasakan manisnya buah prestasi mengharumkan bangsa. Pasangan bulu tangkis nomor ganda campuran itu masing-masing mendapatkan bonus Rp5 miliar atas sekeping emas Olimpiade.

Bonus untuk atlet bulu tangkis juga diberikan kepada peraih juara All England hingga kejuaraan dunia. Pasangan Kevin Sanjaya/Marcus Gideon, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir hingga Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan juga sudah merasakan bonus kejutan itu.

Asian Games 2018
2018 bisa dikatakan sebagai tahunnya Menpora Imam Nahrawi. Betapa tidak, ada dua hajatan besar yang harus ditangani yaitu Asian Games dan Asian Para Games 2018. Kedua kejuaraan internasional itu berjalan dengan sukses baik prestasi, administrasi hingga pertanggungjawaban.

Pada Asian Games, kontingen Indonesia mampu finis diurutan keempat dengan raihan 31 emas, 24 perak, 43 perunggu. Sedangkan pada Asian Para Games berada di posisi lima dengan 37 emas, 47 perak, 51 perunggu. Bonus peraih emaspun sama yaitu Rp1,5 miliar. Begitu juga bonus juga diberikan kepada atlet yang mampu menjadi juara dunia seperti Eko Yuli dari cabang angkat besi.

Selain bonus berupa uang bagi atlet yang berprestasi, Menpora Imam Nahrawi kembali memberikan jalan atlet menjadi Aparatur Sipil Negara atau dulunya dikenal dengan PNS. Peraih medali emas SEA Games 2015 ke atas, peraih medali Asian Games dan Olimpiade semuanya diangkat. menjadi ASN. Begitu juga peraih medali emas ASEAN Para Games, Asian Para Games maupun Paralimpik.

Gowes Nusantara
Di era Imam Nahrawi, Kemenpora bukan hanya berfokus pada olah raga prestasi, tapi juga memberi perhatian besar pada olah raga masal untuk kesehatan masyarakat.
Baca Juga:

PMII Instruksikan Kader di Seluruh Daerah Untuk Unjuk Rasa

Stt..Menpora Imam Nahrawi Jadi Tersangka


Program Gowes Nusantara menjadi andalan untuk kampanye olah raga masal ini. Selain itu ada Gala Desa. Tidak ketinggalan, pengenalan kembali Senam Kesegaran Jasmani (SKJ) mulai sekolah tingkat dasar.​​​​ Semua itu tergabung dalam program Kemenpora bertajuk Ayo Olahraga.

E-Sport
Ada satu lagi yang cukup menyita perhatian dari sepak terjang Menpora Imam Nahrawi, yakni dukungannya yang besar terhadap E-sport untuk menjadi salah satu cabang olahraga prestasi. Bahkan, di sela puncak peringatan Hari Olahraga Nasional (Haornas) di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Senin (9/9/2019), E-Sport dibahas secara khusus melalui Simposium Interpretasi Esport dalam Wacana Keolahragaan Nasional.

Masih teringat dalam benak masyarakat Indonesia, FIFA menjatuhkan sanksi untuk Indonesia. FIFA menilai pemerintah Indonesia telah mengintervensi independensi aktivitas sepakbola di Tanah Air setelah membekukan PSSI dan membentuk tim transisi.

Dibekukan FIFA
Setelah beberapa waktu menjabat sebagai orang nomor satu di Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), pria kelahiran Bangkalan Madura, 8 Juli 1973 langsung dihadapkan polemik sepak bola gajah pada pertandingan PSS Sleman melawan PSIS Semarang.

Selain itu dihadapkan dengan permasalahan yang lebih pelik yaitu soal kompetisi tertinggi di Tanah Air, Indonesia Super League (ISL). Saat itu, Kemenpora dan Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI) meminta kick off dimundurkan dari jadwal karena sejumlah klub belum memenuhi persyaratan yang diminta.

Kemenpora melayangkan tiga kali teguran kepada Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) berikut PT Liga Indonesia selaku operator kompetisi. Namun, hingga batas yang ditentukan, belum ada jawaban. Akhirnya pada 18 April 2015, Kemenpora membekukan PSSI melalui suratnya bernomor 01307 tahun 2015 yang ditandatangani Menpora Imam Nahrawi.

Pembekuan ini berdampak panjang. Federasi sepak bola dunia atau FIFA langsung melarang timnas Indonesia beraktivitas di kancah internasional (di-suspend) karena pemerintah dinilai melakukan intervensi. Setelah Kemenpora mencabut pembekuan, FIFA akhirnya mengikuti dengan mencabut suspend-nya yang berlangsung kurang lebih satu tahun.

Aktivitas sepak bola, khususnya timnas, akhirnya kembali normal meski permasalahan terus muncul. Beberapa prestasi mampu diraih meski untuk level junior seperti pada ajang Piala AFF. Untuk timnas senior hingga saat ini, prestasi tak kunjung tiba.

Setelah jatuhnya sanksi FIFA, aktivitas kompetisi sepakbola profesional di Indonesia sempat tak jelas masa depannya. Sampai lahirlah Piala Presiden, turnamen independen yang digelar Mahaka Sports and Entertainment. Lalu belakangan, muncul Piala Jenderal Sudirman. (Red)


Tags : Imam Nahrawi Menpora Imam Nahrowi Tersangka Kasus Suap KONI Partai PKB Jabarnews Berita Jawa Barat Berita Terkini
properti

berita terkait

Imam Nahrawi Ditetapkan Sebagai Tersangka Kasus Hibah KONI

Menpora Minta Audisi Bulu Tangkis Djarum Foundation Dilanjutkan

Persib

Berita Populer

Berita Terkini

Mang Jabar

jabarnews tv

tag populer

unduh aplikasi