aqua

Ternyata Ini Penyebab Cuaca Gerah Belakangan

Tidak berkaitan dengan fenomena peningkatan kelembaban global.

Ilustrasi- Cuasa gerah/panas. (Foto: Net)

JABARNEWS | BANDUNG - BMKG menegaskan kalau cuaca gerah yang belakangan kerap dirasakan tidak berkaitan dengan fenomena peningkatan kelembaban global.

Kepala Subbidang Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG, Siswanto menegaskan kalau cuaca gerah yang belakangan dirasakan di Indonesia memang berbeda dari gelombang panas.

Baca Juga:

Rekayasa Cuaca Jadi Pertimbangan Pemrov Jabar Atasi Kekeringan

Terjadi Gempa Bumi Berkekuatan 7,7 SR di Maluku, Tak Berpotensi Tsunami



"Oh ini hal berbeda, walaupun indikatornya bisa sama," tuturnya dilansir dari laman Cnnindonesia, Rabu (13/5/2020).

Menurut Siswanto, panas gerah yang terjadi belakangan masih terkait dengan peristiwa pertengahan April lalu akibat peralihan ke musim kemarau.

Peralihan ke musim kemarau ini mengakibatkan suhu udara yang tinggi, kelembaban udara yang rendah. Hal ini terjadi karena kondisi langit cerah dan kurangnya awan. Sebab, pancaran sinar matahari langsung lebih banyak diteruskan ke permukaan Bumi.
Halaman selanjutnya 1 2 3 4
Tags : Cuaca Gerah Cuaca Panas BMKG Gelombang Panas Jabarnews Berita Jawa Barat Berita Terkini Berita Lokal Berita Hiperlokal

berita terkait

Suhu 'Gado-Gado' Menyelimuti Wilayah Majalengka

Gempa Bermagnitudo 5,9 SR Guncang Pangandaran

Persib

Berita Populer

Berita Terkini

Mang Jabar

jabarnews tv

tag populer

unduh aplikasi